TEROPONGPUBLIK.CO.ID — Persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah ternyata mampu bertahan melewati perjalanan waktu. Hal itu terlihat dari kekompakan alumni putih biru SMP Negeri 5 Pasar Bengkulu, yang kini dikenal sebagai SMP Negeri 7 Kota Bengkulu, khususnya para lulusan tahun 1993.
Puluhan tahun setelah meninggalkan seragam putih biru, hubungan pertemanan para alumni tersebut tetap terpelihara. Mereka tidak hanya mengandalkan pertemuan secara langsung, tetapi juga memanfaatkan teknologi komunikasi untuk menjaga hubungan yang telah terjalin sejak masa sekolah.

Para alumni tergabung dalam sebuah grup WhatsApp yang menjadi ruang bersama untuk berkomunikasi, bertukar kabar, hingga menyampaikan berbagai informasi penting. Melalui grup tersebut, kabar tentang suka maupun duka yang dialami anggota dapat diketahui dengan cepat oleh teman-teman satu angkatan.
Bagi mereka, grup alumni bukan sekadar tempat berbincang atau bernostalgia tentang masa sekolah. Lebih dari itu, wadah tersebut menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian dan rasa persaudaraan di antara para lulusan.
Semangat kebersamaan itu kembali terlihat ketika salah seorang alumni, Sumitri, mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan rumahnya di kawasan Pengantungan, Kota Bengkulu.
Kabar mengenai musibah tersebut dengan cepat diketahui oleh para alumni melalui grup WhatsApp. Setelah mendapatkan informasi, sejumlah teman satu angkatan kemudian berinisiatif memberikan dukungan kepada Sumitri dan keluarganya.
Bantuan yang diberikan mungkin tidak besar jika dilihat dari nilainya. Namun, bagi para alumni, perhatian dan kehadiran di tengah situasi sulit merupakan bentuk kepedulian yang jauh lebih bermakna.
Yosi Marlina, salah seorang alumni, mengatakan kebersamaan yang telah dibangun sejak masa sekolah harus terus dipelihara. Menurutnya, kepedulian terhadap sesama alumni tidak harus diwujudkan dalam bentuk besar.
“Walaupun bantuan yang diberikan nilainya tidak seberapa, yang terpenting adalah kebersamaan dan kepedulian terhadap teman tetap terjaga,” ujar Yosi Marlina usai menyerahkan bantuan dari para alumni
Menurut Yosi, hubungan yang telah terjalin sejak 1993 menjadi modal penting untuk menjaga rasa persaudaraan. Setiap anggota alumni diharapkan dapat saling memberikan dukungan ketika menghadapi persoalan, baik dalam kondisi bahagia maupun saat mengalami musibah.
Semangat tersebut juga menjadi bukti bahwa persahabatan masa sekolah tidak harus berhenti ketika masing-masing telah menjalani kehidupan dan kesibukan berbeda.
Sementara itu, Sumitri mengaku terharu melihat perhatian yang diberikan teman-teman satu almamater. Ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian para alumni yang tetap hadir ketika dirinya sedang menghadapi musibah.
Bagi Sumitri, bantuan materi bukanlah hal utama. Kehadiran dan perhatian teman-teman justru menjadi kekuatan tersendiri untuk menghadapi masa sulit setelah musibah kebakaran.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh teman alumni yang telah memberikan dukungan dan bantuan.
“Terima kasih kepada teman-teman satu alumni yang sudah peduli dan hadir dalam keadaan seperti ini. Semoga kebersamaan kita selalu terjalin dan persaudaraan ini tetap terjaga,” ungkap Sumitri.
Kisah tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa ikatan persahabatan yang dibangun sejak sekolah dapat menjadi kekuatan sosial yang berarti. Berawal dari ruang kelas dan seragam putih biru, para alumni SMP Negeri 5 Pasar Bengkulu lulusan 1993 kini terus menjaga hubungan melalui komunikasi dan kepedulian.
Bagi mereka, waktu boleh berlalu, kehidupan boleh membawa setiap orang ke jalan masing-masing, tetapi persaudaraan tidak harus ikut berakhir. Justru melalui kepedulian dalam situasi sulit, nilai persahabatan yang pernah dibangun puluhan tahun lalu kembali terasa nyata.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra