Skip to main content

BI Bengkulu Dorong QrIsTO, Pajak Restoran dan Hotel Bisa Masuk RKUD Real-Time

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat menjelaskan pengembangan digitalisasi transaksi daerah melalui QrIsTO dan perluasan QRIS bagi UMKM di kawasan Pantai Panjang Bengkulu.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>  Digitalisasi transaksi keuangan daerah terus didorong Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu. Tak hanya menyasar pembayaran masyarakat, transformasi digital tersebut juga diarahkan untuk mempercepat penerimaan pajak daerah sekaligus memperluas penggunaan pembayaran nontunai bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Salah satu inovasi yang tengah dipersiapkan adalah penerapan QrIsTO. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan pembayaran konsumen dengan pemungutan pajak restoran dan hotel melalui mekanisme pemisahan transaksi secara otomatis.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membuat proses pemungutan pajak menjadi lebih cepat, akurat, dan mudah dipantau pemerintah daerah.

Melalui mekanisme split payment, nilai transaksi yang dibayarkan konsumen nantinya dapat langsung terbagi sesuai komponennya. Sebagian masuk sebagai pembayaran kepada pelaku usaha, sementara bagian pajak secara otomatis diarahkan ke rekening pemerintah daerah.

Menurut Wahyu, sistem tersebut juga memungkinkan proses validasi komponen pajak dilakukan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) sebelum transaksi diselesaikan.

Dengan dukungan teknologi blockchain, transaksi dapat tercatat secara elektronik dan berlangsung secara real-time. Penerimaan pajak yang menjadi hak pemerintah daerah dapat langsung diteruskan ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD).

Wahyu menjelaskan, pola pembayaran digital ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap mekanisme manual dalam pemungutan pajak daerah.

Dalam sistem konvensional, terdapat proses penghitungan, pelaporan, hingga penyetoran pajak yang membutuhkan waktu. Jeda pembayaran tersebut juga membuat pemerintah daerah tidak dapat memperoleh gambaran penerimaan secara langsung pada saat transaksi berlangsung.

Melalui QrIsTO, proses tersebut diharapkan menjadi lebih ringkas karena data transaksi dan komponen pajak tercatat dalam sistem secara otomatis.

Keuntungan lainnya adalah pemerintah daerah dapat melakukan pemantauan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan lebih cepat. Data transaksi yang masuk dapat menjadi dasar monitoring tanpa harus menunggu proses administrasi yang berlangsung dalam waktu lama.

BI Bengkulu menargetkan implementasi awal QrIsTO melalui skema pilot project pada pertengahan Oktober 2026. Tahap awal tersebut akan melibatkan sejumlah sampel hotel, restoran, dan kafe yang berada di wilayah Kota Bengkulu.

Program percontohan ini nantinya menjadi bahan evaluasi sebelum penerapan diperluas ke lebih banyak pelaku usaha.

Selain memperkuat sistem penerimaan pajak, BI Bengkulu juga menjalankan agenda digitalisasi pada sektor UMKM, terutama yang beraktivitas di kawasan wisata.

Salah satu lokasinya adalah Pantai Panjang Bengkulu. Kawasan wisata tersebut menjadi sasaran pengembangan ekosistem transaksi digital agar wisatawan maupun pelaku usaha dapat melakukan pembayaran secara praktis menggunakan QRIS.

BI Bengkulu turut membangun enam unit gazebo di kawasan Pantai Panjang. Fasilitas tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi pengunjung sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan pedagang di sekitar kawasan wisata.

Namun, pembangunan fasilitas fisik tersebut bukan menjadi tujuan utama program. Menurut Wahyu, sasaran yang lebih penting adalah memastikan para pelaku UMKM di Pantai Panjang memiliki akses terhadap sistem pembayaran digital.

Dengan tersedianya QRIS, transaksi antara pedagang dan konsumen dapat dilakukan tanpa harus bergantung pada pembayaran tunai. Cara tersebut juga membuka peluang bagi UMKM untuk mengikuti perkembangan ekosistem ekonomi digital.

Pengembangan transaksi digital di kawasan wisata tentu membutuhkan dukungan infrastruktur jaringan. Karena itu, BI Bengkulu membuka ruang fasilitasi apabila pelaku UMKM maupun pengunjung menghadapi kendala koneksi internet.

Wahyu menyampaikan, penyediaan jaringan internet menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan apabila kondisi di lapangan menghambat transaksi digital.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan aplikasi pembayaran. Ketersediaan jaringan, kesiapan pelaku usaha, serta kemudahan masyarakat dalam bertransaksi juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital di Bengkulu.

Melalui pengembangan QrIsTO untuk penerimaan pajak dan perluasan QRIS bagi UMKM, BI Bengkulu mendorong agar digitalisasi memberikan manfaat langsung bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra