Skip to main content

Gubernur Helmi Hasan Dorong Transformasi Ekonomi Perhutanan Sosial, Bengkulu Terima Dukungan Rp23,55 Miliar

Gubernur Helmi Hasan Dorong Transformasi Ekonomi Perhutanan Sosial, Bengkulu Terima Dukungan Rp23,55 Miliar

TEROPONGPUBLIK.CO.ID -  Pemerintah Provinsi Bengkulu terus memperkuat strategi pembangunan ekonomi masyarakat berbasis potensi sumber daya alam, khususnya melalui pengembangan perhutanan sosial. Salah satu fokus utama yang didorong adalah peningkatan nilai ekonomi komoditas kopi robusta serta pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) secara berkelanjutan.

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menegaskan bahwa potensi alam yang dimiliki Bengkulu harus mampu dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Menurutnya, sektor kopi dan perhutanan sosial memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong transformasi ekonomi berbasis komunitas melalui penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha produktif masyarakat.

“Upaya ini merupakan langkah nyata untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Bengkulu, khususnya kopi robusta. Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan hutan melalui tata kelola usaha yang lebih baik,” ujar Helmi Hasan.

Provinsi Bengkulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Bengkulu menempati posisi kelima sebagai produsen kopi nasional.

Pada tahun 2023, produksi kopi Bengkulu mencapai sekitar 55 ribu ton atau setara dengan 7,23 persen dari total produksi kopi nasional. Angka tersebut menunjukkan potensi besar yang dapat dikembangkan lebih lanjut, terutama melalui peningkatan kualitas produksi dan pengolahan pascapanen.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan kapasitas kelembagaan kelompok usaha, manajemen bisnis yang belum optimal, serta mutu hasil panen yang masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat sistem produksi, memperbaiki manajemen usaha, serta meningkatkan kualitas pengolahan kopi agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi masyarakat desa, Pemerintah Provinsi Bengkulu pada awal tahun 2026 meluncurkan program unggulan bertajuk Kopi Merah Putih.

Program ini dirancang untuk mempercepat proses hilirisasi komoditas kopi robusta Bengkulu, mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengolahan hasil, hingga penguatan akses pasar bagi para petani dan kelompok usaha masyarakat.

Inisiatif tersebut juga sejalan dengan peluncuran strategi nasional transformasi ekonomi komunitas perhutanan sosial yang bertujuan membangun model bisnis berbasis masyarakat di kawasan hutan.

Dalam program tersebut, Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang dipilih sebagai lokasi prioritas intervensi. Melalui program ini, Provinsi Bengkulu memperoleh dukungan anggaran sebesar USD 1.453.904 atau sekitar Rp23,55 miliar.

Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat kelembagaan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), meningkatkan kapasitas usaha masyarakat, memperluas akses pasar, serta mengembangkan pengolahan produk agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Pelaksanaan program ini difokuskan di dua wilayah yang memiliki potensi besar dalam sektor kopi dan perhutanan sosial, yakni Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Rejang Lebong.

Di Bengkulu Utara, beberapa KUPS yang menjadi sasaran penguatan antara lain KUPS Mahkota Bukit Resam, KUPS Pesona Bukit Resam, KUPS Sumur Alam, KUPS Kopi Sako Lemo Nakai, serta KUPS Durian Tembaga.

Selain sektor perkebunan, program ini juga mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kawasan hutan, termasuk pengembangan ekowisata dan kerajinan HHBK. Beberapa kelompok usaha yang terlibat antara lain KUPS Wisata Curug 9, KUPS Aroba Lemo Nakai, KUPS Dawen Lemo Nakai yang mengembangkan produk ecoprint, serta KUPS Besambu Lemo Nakai yang memproduksi berbagai kerajinan dari hasil hutan.

Sementara itu, di Kabupaten Rejang Lebong, penguatan program difokuskan pada rantai nilai produksi kopi. Beberapa KUPS yang menjadi bagian dari program ini antara lain KUPS Maju Bersama, Sinar Harapan, Register Lima, Suko Makmur, dan Bingo Sanyok yang bergerak dalam produksi green bean kopi.

Gubernur Helmi Hasan optimistis program transformasi ekonomi perhutanan sosial ini akan memperkuat posisi Bengkulu sebagai salah satu sentra kopi robusta unggulan di Indonesia.

Ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi daerah harus mampu berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Bengkulu harus mampu mengelola potensi alamnya untuk kesejahteraan masyarakat. Kopi kita harus naik kelas, masyarakat semakin sejahtera, dan hutan tetap terjaga kelestariannya,” tegas Helmi Hasan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok usaha masyarakat, lembaga pendamping, serta dukungan pembiayaan program, Pemerintah Provinsi Bengkulu menargetkan terciptanya transformasi ekonomi hijau yang berkelanjutan dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Pewarta: Amg

Editing: Adi Saputra