TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>> Persoalan sampah yang kian kompleks tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran kolektif masyarakat, khususnya dari unit terkecil yakni rumah tangga, menjadi kunci utama dalam menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemahaman inilah yang terus digaungkan oleh pegiat lingkungan, Siti Pahlawati, melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Pada Sabtu pagi (13/12/2025), Siti Pahlawati bersama rekannya, Ibu Ety, turun langsung ke kawasan Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu. Bertempat di Perumahan Puri Nirwana Blok A Nomor 10, RT 49 RW 03, mereka menggelar kegiatan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga yang diikuti puluhan ibu rumah tangga setempat.
Kegiatan tersebut berfokus pada manajemen pemilahan sampah organik dan anorganik, khususnya plastik, agar dapat dikelola dengan baik dan memiliki nilai ekonomis. Dalam pemaparannya, Siti menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tidak hanya membantu kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu mengurangi beban pengangkutan sampah ke TPA secara signifikan.
“Jika sampah sudah dipilah sejak dari dapur dan halaman rumah, maka persoalan di hilir akan jauh lebih ringan. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara plastik dapat dikumpulkan untuk didaur ulang,” jelas Siti di hadapan peserta.
Gerakan berbasis akar rumput ini mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring. Legislator yang dikenal aktif menyuarakan isu lingkungan tersebut menilai pendekatan jemput bola seperti ini merupakan langkah strategis dalam menyelesaikan persoalan sampah dari hulu.
Menurut Usin, peran ibu rumah tangga sangat vital karena merekalah pengelola utama aktivitas rumah tangga sehari-hari. Jika kesadaran memilah sampah tumbuh dari kalangan “emak-emak”, maka dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan.
“Saya sangat mengapresiasi konsistensi Ibu Siti Pahlawati dan rekan-rekan. Masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan menambah armada truk. Penyelesaiannya harus dimulai dari rumah. Emak-emak adalah garda terdepan,” ujar Usin dalam keterangannya.
Politisi Partai Hanura tersebut juga mendorong agar pola edukasi langsung dari rumah ke rumah seperti yang dilakukan di Perumahan Puri Nirwana dapat direplikasi di wilayah lain di Bengkulu. Ia menilai edukasi pemilahan sampah merupakan investasi jangka panjang bagi daerah.
“Ilmu memilah sampah ini bukan hanya bermanfaat hari ini, tetapi juga menjadi amal jariyah. Ketika masyarakat menerapkannya secara konsisten, manfaatnya akan terus mengalir bagi lingkungan dan generasi mendatang,” tambahnya.
Selama sesi pelatihan, warga tampak antusias mengikuti setiap penjelasan. Banyak peserta mengaku baru menyadari bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai jika dikelola dengan benar.
Menutup kegiatan tersebut, Siti Pahlawati berharap ilmu yang dibagikan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. “Amal dan ilmu akan menjadi berkah yang terus mengalir ketika masyarakat mau menerapkannya bersama-sama,” pungkasnya.(adv).
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra