TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah terus memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah melalui penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu ini menjadi langkah nyata untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Mengusung tema “Melestarikan Bahasa Daerah, Menguatkan Jati Diri Bangsa”, festival tersebut digelar di SMP Negeri 3 Bengkulu Tengah, Selasa (20/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran PGRI Power, sebagai bagian dari gerakan satu juta guru mahir coding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perpaduan kedua agenda tersebut mencerminkan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus mempersiapkan dunia pendidikan menghadapi tantangan era digital.

Hadir dalam kegiatan itu Bupati Bengkulu Tengah Drs. Rachmat Riyanto, S.T., M.AP., Bunda Guru Kabupaten Bengkulu Tengah Dr. Susilo Damarini Rachmat, SKM., MPH., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, perwakilan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, kepala sekolah, guru, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Menurutnya, diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat agar bahasa ibu tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan digitalisasi seharusnya tidak menjadi alasan bagi anak-anak untuk meninggalkan bahasa daerah. Sebaliknya, perkembangan zaman perlu dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan bahasa lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Rachmat menilai Festival Tunas Bahasa Ibu memiliki peran penting dalam membangun kesadaran generasi muda mengenai nilai bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan bangsa.
“Festival Tunas Bahasa Ibu ini bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi harus menjadi momentum dan gerakan bersama untuk mendorong anak-anak kita agar bangga menggunakan bahasa daerahnya. Kita ingin bahasa ibu tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Bupati menjelaskan, bahasa Rejang dan bahasa Lembak menjadi dua bahasa daerah yang mendapat perhatian dalam program revitalisasi di Kabupaten Bengkulu Tengah.
Melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, upaya pelestarian terus didorong agar kedua bahasa tersebut tetap dikenal, dipahami, dan digunakan oleh generasi muda.

Ia juga mengajak para pendidik dan orang tua membangun kebiasaan berbahasa daerah di lingkungan sekolah maupun keluarga. Pembiasaan dalam percakapan sehari-hari dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga keberlangsungan bahasa ibu.
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 memberikan kesempatan kepada peserta didik tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) untuk menunjukkan kemampuan sekaligus kreativitas mereka dalam menggunakan bahasa daerah.
Sejumlah perlombaan digelar, meliputi pidato, pembacaan puisi, dan mendongeng menggunakan bahasa daerah. Berbagai penampilan tersebut menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa untuk mengenal kekayaan kosakata, ungkapan, cerita, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa ibu.
Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan semakin percaya diri menggunakan bahasa daerah tanpa merasa malu atau menganggapnya tertinggal dibandingkan bahasa lain.
Suasana festival semakin semarak dengan atraksi dol yang ditampilkan siswa SMP Negeri 3 dan SD Negeri 1 Bengkulu Tengah.
Selain itu, para siswa turut mempersembahkan Tari Ting Bedeting dan Senam Berbinar. Penampilan tersebut melibatkan peserta didik dari SD Negeri 1, SD Negeri 5, SD Negeri 15, serta SMP Negeri 3 Bengkulu Tengah.

Rangkaian pertunjukan seni itu memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa daerah dapat berjalan beriringan dengan pengenalan seni dan tradisi lokal kepada generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Tengah, Eriyanto, S.Pd., M.AP., menyampaikan bahwa FTBI merupakan bagian dari pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah melalui kolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu.
Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang apresiasi bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus menunjukkan prestasi di bidang kebudayaan.
Eriyanto berharap kegiatan serupa dapat memperkuat kecintaan peserta didik terhadap bahasa Rejang dan bahasa Lembak. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung penggunaan bahasa daerah secara positif.
“Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu, kita memberikan ruang bagi anak-anak untuk berprestasi sekaligus menjaga kelestarian bahasa daerah. Kita ingin bahasa ibu tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi muda di Kabupaten Bengkulu Tengah,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu mengapresiasi dukungan Bupati Bengkulu Tengah dan seluruh jajaran pemerintah daerah terhadap program revitalisasi bahasa daerah yang telah berjalan sejak 2023.
Sinergi antara pemerintah, lembaga kebahasaan, sekolah, guru, dan keluarga diharapkan terus diperkuat agar pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada kegiatan festival semata.
Melalui FTBI 2026, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah berharap bahasa Rejang dan bahasa Lembak tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh sebagai generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya dan jati diri daerahnya.(adv)
Pewarta : Rizon
Editing : Adi Saputra