Skip to main content

Konkernas PWI, Wartawan Diminta Kembali ke Marwah Profesi

Konkernas PWI, Wartawan Diminta Kembali ke Marwah Profesi

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Ahmad Munir, menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi agar tetap berada di tangan wartawan profesional. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada kegiatan Konsolidasi Kerja Nasional (Konkernas) PWI yang digelar di Aston Hotel Banten, Sabtu (8/2/2026).

Dalam forum yang dihadiri pengurus PWI dari berbagai daerah tersebut, Ahmad Munir menyoroti tingginya minat masyarakat untuk terlibat dalam struktur kepengurusan PWI. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa PWI merupakan organisasi besar dan strategis. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga menghadirkan tantangan serius karena tidak sedikit pihak yang ingin masuk dengan membawa kepentingan di luar profesi jurnalistik.

“PWI harus tetap menjadi rumah besar wartawan sejati. Jangan sampai organisasi ini dikuasai oleh kepentingan kelompok, apalagi oleh pihak-pihak yang bukan berlatar belakang wartawan, seperti LSM atau kader politik,” tegas Munir.
Ia menilai, dalam beberapa tahun terakhir, dinamika internal PWI cukup kompleks, terutama setelah terjadinya perpecahan di tubuh organisasi yang kemudian diikuti dengan proses rekonsiliasi. Situasi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa organisasi sebesar PWI membutuhkan sistem regulasi yang kuat, jelas, dan mengikat semua pihak.

Oleh karena itu, Munir menekankan bahwa penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) merupakan agenda yang sangat krusial. Menurutnya, AD/ART bukan sekadar dokumen formal, melainkan pedoman utama yang akan menentukan arah perjalanan PWI ke depan.

“Pasca konflik dan rekonsiliasi, kita tidak boleh kembali ke pola lama. Harus ada pembaruan aturan yang lebih tegas, adil, dan transparan. AD/ART ini akan menjadi fondasi agar organisasi berjalan sehat dan tidak mudah terpecah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyempurnaan AD/ART merupakan amanat langsung dari hasil Kongres PWI tahun 2025.

Dalam kongres tersebut, para peserta sepakat bahwa regulasi internal perlu diperbaiki agar mampu mengakomodasi perkembangan zaman serta dinamika profesi jurnalistik yang semakin kompleks.
Munir mengibaratkan konflik internal yang pernah terjadi sebagai bentuk “pertengkaran dalam keluarga besar”. Menurutnya, peristiwa itu harus menjadi refleksi bersama untuk membangun aturan yang lebih harmonis, bukan justru memperlebar jurang perbedaan.

“Kita baru saja melewati masa sulit. Artinya, sekarang saatnya membuat regulasi yang menyejukkan, yang bisa mengikat semua pihak. Jangan lagi ada ego pribadi atau kepentingan kelompok. Yang harus dikedepankan adalah semangat kebersamaan,” katanya.

Lebih lanjut, Munir menekankan bahwa PWI bukan organisasi politik, melainkan organisasi profesi yang harus berdiri di atas nilai-nilai jurnalistik: independensi, integritas, dan profesionalisme. Karena itu, ia mengingatkan seluruh pengurus dan anggota untuk tidak membawa kepentingan politik praktis ke dalam tubuh organisasi.

“Mindset politik harus ditinggalkan. Kalau PWI dibawa ke arah politik, maka akan merusak kepercayaan publik terhadap wartawan,” ujarnya.
Dalam proses penyempurnaan AD/ART, Munir memastikan bahwa PWI Pusat tidak bekerja secara sepihak. Pembahasan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan perwakilan PWI dari seluruh provinsi di Indonesia, serta Dewan Kehormatan PWI baik di tingkat pusat maupun daerah.

Ia berharap, dengan melibatkan banyak pihak, hasil perumusan AD/ART benar-benar mencerminkan aspirasi anggota dan mampu menjadi payung hukum yang adil bagi semua.

“Ini bukan soal siapa yang paling berkuasa, tapi bagaimana kita membangun organisasi yang kuat, solid, dan bermartabat. Kalau aturannya jelas, semua akan patuh, dan konflik bisa diminimalkan,” ucap Munir.

Menutup sambutannya, Ahmad Munir mengajak seluruh insan pers yang tergabung dalam PWI untuk kembali meneguhkan komitmen sebagai wartawan profesional. Ia menekankan bahwa tantangan ke depan tidak ringan, mulai dari disrupsi media digital hingga menurunnya kepercayaan publik.
“PWI harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas pers Indonesia. Dengan organisasi yang solid dan aturan yang kuat, kita bisa menghadapi tantangan zaman dan tetap menjadi rujukan utama bagi dunia jurnalistik nasional,” pungkasnya.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra