BENGKULU.TEROPONGPUBLIK.CO.ID-Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, namun juga berdampak pada sektor pertanian.FAO sudah memberikan peringatan mengenai potensi krisis pangan.
Karena di masa pandemi setiap negara-negara produsen hasil pertanian akan lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri mereka sebelum melakukan ekspor ke negara lain. Selain itu, kebijakan pemberlakuan karantina wilayah juga berdampak terhadap distribusi hasil pertanian.
Presiden Jowoki telah memberikan arahan untuk menjadikan pandemi covid-19 sebagai momentum reformasi pangan. Untuk dapat mewujudkan reformasi pangan diperlukan kerjasama yang baik antara petani, penyuluh, peneliti, akademisi, swasta, dan pelaku sektor pertanian lainnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan reformasi pangan yaitu dengan mengembangkan bioteknologi pangan. Karena selain dapat meningkatkan hasil produksi, bioteknologi pangan juga dapat memperbaiki kualitas pangan.
Bioteknologi pangan adalah aplikasi teknik biologis untuk menghasilkan tanaman pangan, hewan, dan mikroorganisme dengan tujuan meningkatkan sifat, kualitas, keamanan, dan kemudahan dalam pemrosesan dan produksi makanan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional dibutuhkan suatu upaya yang lebih menjanjikan. Di Indonesia bioteknologi sudah lama dikenal, namun belum dikembangkan secara maksimal.
Seiring dengan semakin meningkatnya ahli fungsi lahan, maka dibutuhkan benih/bibit tanaman unggul yang memiliki produktivitas yang tinggi serta tahan terhadap serangan organisme pengangu tanaman. Untuk dapat menghasilkan tanaman varietas unggul tersebut dapat dilakukan dengan teknik Genetic Modification (GM). Genetic modification dikenal sebagai teknik rekayasa genetik, manipulasi genetik, dan teknologi gen atau teknologi rekombinan DNA.
Rekayasa genetik yang sudah berhasil dikembangkan yaitu tanaman kedelai yang tahan terhadap cekaman lingkungan dan memiliki produktivitas yang tinggi seperti kedelai hitam varietas Mallika dan kedelai kuning varietas Mutiara 1 (Pawiroharsono, 2013). Selain itu, juga dikembangkan tanaman kedelai yang tahan terhadap hama penggerek polong. Rekayasa genetik yang dilakukan pada tanaman kedelai tersebut yaitu memodifikasi susunan gen pada tanaman kedelai varietas Tidar dengan mentransfer gen Agrobacterium tumefaciens (Tando dan Juradi, 2019).
Indonesia memiliki potensi yang baik dalam rekayasa genetik, hal ini didukung dengan keragaman genetik yang sangat tinggi. Potensi ini dapat dikembangkan untuk mendapatkan tanaman varietas unggul guna memenuhi kebutuhan pangan nasional. Karena hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional masih sangat bergantung pada negara lain, misalnya saja untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional.
Namun, keragaman genetik saja tidak cukup untuk memperoleh tanaman varietas unggul. Dibutuhkan juga sumber daya manusia, dana penelitian, serta fasilitas dan kebijakan pemerintah yang mendukung dalam proses pemasaran produk rekayasa genetik. Hingga saat ini sumber daya manusia dibidang bioteknologi masih rendah, begitu pula dengan dana penelitian (Wasilah et al., 2019).
Anggaran riset Indonesia merupakan anggaran terendah di Asia Tenggara yaitu 0.2% atau 17 triliun, sedangkan Singapura dan Thailand telah menganggarkan dana riset sebesar 2.5%, sementara Malaysia menganggarkan 1.8%. Selain dukungan dana, pemerintah juga berperan dalam memberikan kebijakan yang berkaitan dengan bioteknologi.
Namun, kebijakan tersebut terkesan memperpanjang proses administrasi yang harus dilalui. Sebagai contoh di bidang biotek tanaman, moratorium yang diharuskan oleh pemerintah pada uji lapangan dan budidaya tanaman rekayasa genetika telah menghambat investasi dibidang bioteknologi (Wasilah et al., 2019).
Biotekologi dapat di jadikan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, namun dibutuhkan perbaikan pada beberapa aspek seperti mengkaji kembali dana riset dan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan bioteknologi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, juga harus memperhatikan aspek budaya dan agama dalam pengembangan bioteknologi pangan.
Untuk dapat mencukupi kebutuhan pangan dimasa pandemi tidak dapat bergantung hanya pada bioteknologi, karena untuk dapat menerapkan bioteknologi dalam skala luas dibutuhkan waktu yang cukup panjang, misalnya saja untuk memperoleh tanaman varietas unggul harus melalui banyak tahap yang sudah pasti akan membutuhkan waktu yang banyak.
Sehingga dimasa pandemi saat ini sangat diperlukan kerja sama di setiap tingkatan sosial pada sektor pertanian untuk menjaga sistem ketahanan pangan. Penulis merupakan Mahasiswa Program S2 Jurusan Agroekoteknologi Universitas Bengkulu(YELLY MESPA)