TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan nonformal, Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) yang berada di Desa Taba Lagan, Kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah,tetap bertahan dan menjadi pusat pembelajaran agama Islam bagi puluhan anak dari lima desa sekitar.
Lembaga yang berdiri sejak tahun 2010 tersebut hingga kini terus menjalankan kegiatan belajar mengajar meskipun dengan fasilitas dan pendanaan yang sangat terbatas. Keberadaan MDTA dinilai sangat penting karena menjadi wadah pendidikan agama bagi anak-anak di luar jam sekolah formal.
Pimpinan MDTA, Bukhori, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berada di bawah pembinaan Kementerian Agama sebagai bagian dari pendidikan Islam nonformal. Selain program Madrasah Diniyah, kegiatan yang dilaksanakan juga mencakup pembelajaran Al-Qur’an seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

“Lembaga ini memang pendidikan nonformal di bawah naungan Kementerian Agama. Fokus kami memberikan pendidikan agama kepada anak-anak melalui pembelajaran Al-Qur’an dan materi keislaman lainnya,” ujarnya.
Saat ini jumlah peserta didik yang aktif belajar mencapai 89 orang. Mereka berasal dari lima desa, yakni Desa Pulau Panggung, Desa Lagan Bungin, Desa Bukit, Desa Taba Lagan, dan Desa Jaya Karta.
Untuk menyesuaikan waktu para santri, kegiatan belajar dibagi menjadi beberapa sesi. Sebagian anak mengikuti pembelajaran pada sore hari setelah Salat Ashar hingga menjelang Magrib, sementara sebagian lainnya mengikuti kelas malam setelah Salat Magrib.
Sistem ini diterapkan agar seluruh anak tetap dapat memperoleh pendidikan agama sesuai dengan waktu luang mereka masing-masing.
“Kami membagi jadwal menjadi kelas sore dan malam. Anak-anak cukup banyak sehingga pembelajaran dibuat lebih fleksibel,” kata Bukhori.

Materi yang diajarkan meliputi pembelajaran membaca Al-Qur’an, hafalan doa-doa harian, dasar-dasar fiqih, akidah akhlak, hingga pengetahuan keislaman yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Dalam menjalankan aktivitas pendidikan, MDTA Taba Lagan didukung oleh enam orang tenaga pengajar yang secara rutin memberikan pembelajaran kepada para santri.
Meski berstatus nonformal, para guru tetap berupaya memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak memiliki pemahaman agama yang kuat sejak usia dini.
Menurut Bukhori, para pengajar memiliki semangat pengabdian yang tinggi karena sebagian besar kegiatan pendidikan dilakukan dengan keterbatasan anggaran operasional.
“Guru kami ada enam orang yang secara bergantian mengajar. Mereka tetap berkomitmen membina anak-anak agar memiliki bekal agama yang baik,” ungkapnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi lembaga pendidikan nonformal adalah persoalan pendanaan. Hingga saat ini operasional MDTA masih mengandalkan sumbangan peserta didik sebesar Rp15 ribu per bulan untuk setiap santri.
Selain itu, pembangunan dan perawatan sarana belajar juga dilakukan secara swadaya melalui dukungan masyarakat dan bantuan pribadi dari pihak yang peduli terhadap pendidikan agama.
Bangunan yang digunakan saat ini berdiri di atas lahan milik keluarga dan masyarakat sekitar. Keberadaannya menjadi bukti kuat bahwa pendidikan agama dapat terus berjalan berkat semangat gotong royong.
“Bangunan ini dibangun secara swadaya masyarakat dan dukungan pribadi. Kami berusaha mempertahankan kegiatan belajar agar tetap berjalan,” jelasnya.
Bukhori mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, persyaratan administrasi untuk lembaga pendidikan nonformal semakin meningkat. Berbagai ketentuan baru, termasuk kebutuhan legalitas yayasan dan akreditasi, menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga yang dikelola secara mandiri.
Meski demikian, pihaknya tetap berupaya memenuhi berbagai persyaratan tersebut agar lembaga dapat berkembang dan memperoleh akses terhadap program bantuan pemerintah di masa mendatang.
Menurutnya, pendidikan agama tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda, sehingga keberadaan MDTA perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.
“Kami berharap pendidikan agama nonformal seperti ini terus mendapat dukungan. Tujuannya agar anak-anak memiliki bekal akhlak dan pemahaman agama yang baik untuk masa depan mereka,” tutup Bukhori.
Dengan jumlah santri yang terus bertahan dan dukungan masyarakat dari lima desa, MDTA Taba Lagan menjadi contoh nyata bagaimana semangat kebersamaan mampu menjaga keberlangsungan pendidikan agama di tengah berbagai keterbatasan
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra