TEROPONGPUBLIK.CO.ID >>><< Pemerintah Kota Bengkulu mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk beralih konsumsi dari beras premium ke beras Bulog. Permintaan ini muncul sebagai respons terhadap lonjakan harga beras premium lokal yang terjadi akibat penundaan waktu panen raya tahun ini.
Erika Ariesanti, Kabid Pengembangan Perdagangan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bengkulu, mengungkapkan permintaan tersebut pada Jumat (1/3). Ia menekankan bahwa harga beras premium lokal saat ini sudah mencapai tingkat yang tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat, dan oleh karena itu, beralih ke beras Bulog menjadi alternatif yang bijaksana.
Bulog sendiri telah mempersiapkan stok beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta beras komersial. Beras SPHP tersedia dalam dua kualitas, yaitu premium dan medium. Harga eceran tertinggi (HET) untuk satu karung beras SPHP berat 5 Kg adalah Rp57.500, sementara di Hypermart dapat ditemukan dengan harga Rp54.500.
Erika Ariesanti mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan opsi ini sebagai alternatif yang lebih terjangkau. Ia menambahkan bahwa beras Bulog bisa diperoleh di warung atau toko-toko yang terdaftar di Bulog, memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Erika menekankan pentingnya pelaporan jika ada pedagang yang menjual beras SPHP di atas HET yang telah ditetapkan. Masyarakat diharapkan melaporkan ke Dinas Perdagangan dan Perindustrian dengan menyertakan foto dan bukti-bukti pendukung lainnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa beras SPHP tidak dijual dengan harga yang melampaui batas yang telah ditetapkan.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, juga mengimbau masyarakat untuk beralih konsumsi dari beras premium ke beras Bulog. Zulhas menekankan bahwa beras yang disalurkan oleh Bulog memiliki rasa yang enak dan kualitas yang baik, menjadikannya sebagai alternatif yang layak bagi konsumen. Himbauan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengatasi dampak kenaikan harga beras premium di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Pewarta : Herdianson
Editing : Adi Saputra