Skip to main content

Usin Sembiring: Sekolah Harus Jadi Garda Terdepan Pengelolaan Sampah

Usin Sembiring: Sekolah Harus Jadi Garda Terdepan Pengelolaan Sampah

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari Daerah Pemilihan Bengkulu I Kota Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, melaksanakan kegiatan reses masa persidangan pertama Tahun Sidang 2026 di SMAN 2 Kota Bengkulu, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi Usin untuk menyerap aspirasi sekaligus menyampaikan gagasan strategis, khususnya terkait persoalan darurat sampah di Kota Bengkulu.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh guru dan siswa tersebut, Usin menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dipandang sebagai isu biasa. Menurutnya, kondisi saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan sehingga dibutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar imbauan. Ia menilai bahwa generasi muda, khususnya pelajar, harus menjadi sasaran utama dalam perubahan pola pikir mengenai pengelolaan sampah.

Usin menjelaskan bahwa sekolah memiliki peran penting karena merupakan salah satu sumber penghasil sampah harian. Namun, kondisi ini justru bisa diubah menjadi peluang edukatif. Ia mendorong agar setiap sekolah mulai membentuk bank sampah sebagai unit kegiatan sekolah. Melalui bank sampah, siswa tidak hanya belajar membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami proses pemilahan, pengelolaan, hingga nilai ekonomis dari sampah yang selama ini dianggap tidak berguna.

“Masalah sampah harus diubah menjadi solusi. Kalau kita mulai dari sekolah, maka proses pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi langsung praktik. Anak-anak bisa belajar bagaimana mengelola sampah sejak dari sumbernya,” ujar Usin dalam pemaparannya.

Ia juga mengaitkan program tersebut dengan arah kebijakan nasional yang menekankan pentingnya pengurangan sampah dari hulu.

Menurutnya, arahan pemerintah pusat sudah sangat jelas bahwa persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh, mulai dari rumah tangga, lingkungan, hingga lembaga pendidikan. Karena itu, sekolah dianggap sebagai titik strategis untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Usin menyebut bahwa selama ini edukasi pengelolaan sampah lebih banyak difokuskan kepada ibu rumah tangga sebagai pengelola dapur dan rumah.

Program pembentukan bank sampah di tingkat RT dan kelurahan dinilai cukup berhasil dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, upaya tersebut harus diperluas dengan melibatkan anak-anak dan remaja, karena merekalah generasi penerus yang akan menentukan kondisi lingkungan di masa depan.
“Di rumah, ibu dan bapak adalah penghasil sampah. Kalau di lingkungan sudah diajarkan, maka sekolah juga harus bergerak. Dua sisi ini harus berjalan bersamaan agar hasilnya maksimal,” jelasnya.

Menurut Usin, jika sekolah-sekolah secara serempak menerapkan kurikulum berbasis praktik pengelolaan sampah, maka dalam jangka panjang jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa ditekan secara signifikan. Bahkan, ia optimistis target pengurangan hingga mendekati nol sampah ke TPA bukan hal yang mustahil jika semua pihak terlibat.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. DPRD, sekolah, masyarakat, hingga pelaku usaha harus memiliki kesadaran yang sama. Sampah bukan sekadar urusan penghasil sampah, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif.
Dalam kesempatan itu, Usin juga membuka ruang diskusi dengan para guru terkait kemungkinan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan sampah di sekolah. Mulai dari materi pembelajaran, metode praktik, hingga sistem evaluasi, semuanya bisa dirumuskan bersama agar lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lokal.

Ia berharap ke depan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota dapat berkolaborasi dalam merancang kurikulum tematik lingkungan yang aplikatif. Dengan demikian, siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Perubahan mindset harus dilakukan bersama-sama. Kalau semua sekolah bergerak, saya yakin persoalan sampah di Bengkulu bisa kita atasi secara bertahap,” tutup Usin.

Reses tersebut pun mendapat respons positif dari pihak sekolah. Para guru menyambut baik gagasan bank sampah sekolah sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik. Sementara itu, para siswa terlihat antusias karena merasa dilibatkan langsung dalam solusi nyata bagi masalah lingkungan di sekitar mereka.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra