TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah tropis seperti Kota Bengkulu. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini kerap menelan korban, terutama saat musim penghujan tiba. Salah satu faktor utama yang menyebabkan penyebaran DBD adalah buruknya kebersihan lingkungan, terutama genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab DBD.
Menanggapi hal ini, Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia menekankan bahwa langkah sederhana seperti membersihkan pekarangan rumah dan saluran air dapat menjadi bentuk pencegahan yang sangat efektif.
“Penyakit DBD ini sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa. Sumber utamanya berasal dari lingkungan yang kotor dan tidak terawat. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Bengkulu untuk rutin membersihkan lingkungan, minimal di sekitar rumah masing-masing,” ujar Dedy Wahyudi, Kamis (17/7/2025).
Ia secara khusus meminta para lurah dan ketua RT di seluruh wilayah Kota Bengkulu untuk menggugah semangat gotong royong di tengah masyarakat. Dedy menyarankan agar kegiatan gotong royong dilakukan secara rutin, khususnya pada akhir pekan.
“Hari Minggu jangan lupa ya, pak lurah, pak RT. Ajak warganya untuk bergotong royong. Bersih-bersih lingkungan bersama, ini penting. Jadikan gotong royong sebagai budaya yang melekat di masyarakat,” tegas Dedy.
Dedy menambahkan bahwa kegiatan gotong royong tidak memerlukan waktu yang lama. Menurutnya, meluangkan waktu satu jam sebelum beraktivitas pada hari libur sudah cukup untuk membersihkan lingkungan dari potensi sarang nyamuk.
“Gotong royong itu cukup satu jam saja. Sebelum pergi ke kondangan, ajak warga bersih-bersih. Tujuannya untuk memastikan tidak ada genangan air dan tempat nyamuk berkembang biak,” ujarnya.
Wali Kota juga menceritakan kasus tragis yang terjadi di Kelurahan Sawah Lebar, di mana dua anak dari satu keluarga menjadi korban DBD. Anak pertama yang duduk di bangku SMP meninggal dunia lebih dulu, disusul oleh kakaknya yang merupakan siswa SMA, seminggu kemudian. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, diketahui bahwa lingkungan tempat tinggal mereka memang kurang terjaga kebersihannya.
“Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Dua anak dari satu keluarga meninggal karena DBD. Ini bukan hal sepele. Setelah dicek, lingkungan tempat tinggal mereka memang kotor dan banyak genangan air,” ungkap Dedy dengan nada prihatin.
Melihat kenyataan tersebut, Dedy menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia berharap seluruh RT dan kelurahan aktif memantau kondisi lingkungan masing-masing dan rutin mengadakan kerja bakti.
“Saya minta betul kepada pak lurah dan pak RT, mohon ajak dan ingatkan warganya tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Jangan sampai ada lagi korban karena kita lalai menjaga kebersihan,” imbau Dedy.
Pemerintah Kota Bengkulu juga berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi tentang pencegahan DBD kepada masyarakat. Selain itu, dinas terkait seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup juga akan meningkatkan pemantauan dan pengasapan (fogging) di wilayah-wilayah yang rawan DBD.
Dengan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, Wali Kota Dedy Wahyudi optimis bahwa penyebaran DBD di Kota Bengkulu dapat ditekan. Ia pun mengajak seluruh warga untuk menjadikan kebersihan lingkungan sebagai gaya hidup demi menciptakan kota yang sehat, aman, dan nyaman untuk semua.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra