TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, memimpin secara langsung kegiatan pembaretan anggota Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Dinas Damkar Kota Bengkulu, Rabu (17/12/2025), dan diikuti oleh personel baru dari berbagai daerah di Bengkulu.
Pembaretan ini menjadi momen penting dalam proses pembentukan karakter dan profesionalisme anggota Damkar sebelum terjun sepenuhnya menjalankan tugas di lapangan. Dalam arahannya, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang dinilai memiliki nilai strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh, disiplin, dan berintegritas.
Menurut Dedy, tugas pemadam kebakaran bukan hanya sekadar memadamkan api, tetapi juga menyangkut misi kemanusiaan yang penuh risiko. Oleh karena itu, setiap personel harus memiliki kesiapan fisik, mental, serta loyalitas yang tinggi terhadap institusi dan masyarakat yang dilayani.
“Pembaretan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol kesiapan dan komitmen anggota Damkar dalam menjalankan tugas secara profesional. Kalian membawa nama baik institusi, daerah, dan negara, sehingga harus menjunjung tinggi etika, disiplin, dan semangat pengabdian,” ujar Dedy dalam sambutannya.
Dedy Wahyudi juga mengucapkan terima kasih dan rasa bangganya kepada jajaran Damkar yang selama ini telah bekerja dengan penuh dedikasi. Ia menilai tim Damkar di Bengkulu telah menunjukkan kekompakan dan respons cepat dalam membantu masyarakat, baik dalam penanganan kebakaran maupun berbagai situasi darurat lainnya.
“Kami bersyukur memiliki tim Damkar yang solid dan selalu hadir di tengah masyarakat. Tugas ini mulia, penuh pengorbanan, dan membutuhkan keikhlasan. Teruslah menjaga kekompakan dan semangat melayani,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Damkar Kota Bengkulu, Yuliansyah, menjelaskan bahwa pembaretan merupakan tradisi yang telah lama dijalankan oleh institusi pemadam kebakaran di seluruh Indonesia. Tradisi ini menjadi salah satu tahapan penting bagi personel baru untuk memahami jati diri dan tanggung jawab sebagai anggota Damkar.
Yuliansyah menegaskan bahwa makna pembaretan tidak hanya terletak pada simbol penggunaan baret, tetapi juga pada proses pembentukan jiwa korsa, rasa cinta terhadap pekerjaan, serta solidaritas tim. Menurutnya, pemahaman terhadap tugas pokok dan fungsi menjadi hal mendasar yang harus dimiliki setiap personel.
“Kami membekali mereka dengan pemahaman tentang bagaimana mencintai pekerjaan dan tim. Tanpa kebersamaan dan kekompakan, tugas-tugas kemanusiaan yang berat dan berisiko tinggi tidak akan bisa dijalankan dengan baik,” jelas Yuliansyah.
Ia menambahkan bahwa dalam setiap tahapan kegiatan kemanusiaan, anggota Damkar dituntut memiliki kesadaran yang lahir dari hati dan pikiran untuk membantu sesama. Dengan pembaretan ini, diharapkan seluruh personel semakin siap secara mental dan moral untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra