Skip to main content

Inflasi Bengkulu Februari 2026 Capai 3,74 Persen, Tarif Listrik Jadi Pemicu Utama

Inflasi Bengkulu Februari 2026 Capai 3,74 Persen, Tarif Listrik Jadi Pemicu Utama

TEROPONGPUNLIK.CO.ID  <<>>  Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bengkulu mencatat pergerakan harga barang dan jasa di wilayah tersebut masih menunjukkan tekanan inflasi pada Februari 2026. Dalam rilis resmi yang digelar di Kantor BPS Kota Bengkulu, Senin (2/3/2026), Kepala BPS Kota Bengkulu, Iin Inayati, mengungkapkan bahwa secara tahunan atau year on year (y-on-y), inflasi tercatat sebesar 3,74 persen.

Selain itu, secara bulanan atau month to month (m-to-m) terjadi inflasi sebesar 0,60 persen. Sementara itu, secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d), Kota Bengkulu justru masih mengalami deflasi tipis sebesar 0,12 persen. Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 berada di angka 108,80.

Iin Inayati menjelaskan, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama masyarakat. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang kenaikan paling signifikan dengan inflasi mencapai 18,05 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,54 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan sebesar 3,42 persen. Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,98 persen, transportasi 0,47 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,25 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,91 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,22 persen.

Meski sebagian besar kelompok mengalami kenaikan, terdapat pula beberapa kelompok yang mencatat penurunan indeks harga atau deflasi. Kelompok pendidikan menjadi yang paling dalam mengalami penurunan, yakni sebesar 8,31 persen. Selain itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 0,33 persen, begitu juga kelompok kesehatan yang terkontraksi 0,33 persen.

Dari sisi andil terhadap inflasi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan kontribusi terbesar dengan sumbangan 2,28 persen. Komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga di antaranya tarif listrik, emas perhiasan, Sigaret Kretek Mesin (SKM), serta ikan dencis.

Di sisi lain, kelompok pendidikan menjadi penyumbang utama deflasi tahunan dengan andil sebesar 0,51 persen. Beberapa komoditas yang berperan dalam penurunan tersebut antara lain tarif Sekolah Menengah Atas (SMA), cabai merah, bensin, cabai rawit, dan tarif rumah sakit.

Untuk inflasi bulanan, tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang andil 0,45 persen. Kenaikan harga cabai merah menjadi salah satu faktor utama, diikuti daging ayam ras, emas perhiasan, ikan dencis, serta nasi dengan lauk yang turut mendorong inflasi Februari.

Sementara itu, kelompok transportasi menjadi satu-satunya kelompok yang memberikan andil deflasi secara bulanan, yakni sebesar 0,02 persen. Penurunan harga bensin menjadi faktor dominan, disusul turunnya harga telur ayam ras, santan segar, jeruk, dan stoples.

Iin menegaskan bahwa dinamika harga di Bengkulu masih sangat dipengaruhi faktor pasokan dan permintaan, terutama pada komoditas pangan segar yang rentan terhadap kondisi cuaca dan distribusi. Ia menyebut fluktuasi harga cabai dan daging ayam ras sebagai pola musiman yang kerap terjadi pada awal tahun.

Dengan capaian inflasi 3,74 persen secara tahunan, kondisi ini masih berada dalam rentang yang perlu diwaspadai, namun tetap terkendali. Koordinasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan yang biasanya memicu lonjakan permintaan.

BPS mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam berbelanja serta memantau perkembangan harga. Sementara itu, pemantauan rutin akan terus dilakukan guna memastikan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak tergerus secara signifikan.

Pewarta : Amg 

Editing : Adi Saputra