TEROPONGPUBLIK.CO.ID >>><< Kapolda Bengkulu, Mardiyono, menerima penghargaan istimewa dari masyarakat adat Pulau Enggano berupa gelar kehormatan “Raja Nahkona Kaitora”. Prosesi sakral tersebut berlangsung di rumah adat setempat pada Selasa (14/4/2026) dan menjadi momen penting dalam mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat adat di wilayah terluar Indonesia.
Penganugerahan gelar ini dilakukan langsung oleh Ketua Suku Kaitora melalui serangkaian ritual adat yang sarat makna. Dalam prosesi tersebut, Kapolda Bengkulu dikenakan penutup kepala khas adat Enggano sebagai simbol pengakuan dan penerimaan sebagai bagian dari komunitas adat. Selain itu, ia juga menerima senjata tradisional serta sebidang tanah yang melambangkan ikatan persaudaraan dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat setempat.
Gelar “Raja Nahkona Kaitora” bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi juga mencerminkan kepercayaan masyarakat adat terhadap kepemimpinan dan dedikasi Kapolda Bengkulu dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Masyarakat menilai kehadiran Polri, khususnya Polda Bengkulu, telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan pelayanan hingga ke wilayah terpencil seperti Pulau Enggano.
Ketua Suku Kaitora dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemberian gelar ini merupakan bentuk apresiasi atas komitmen Polri dalam menghormati adat istiadat serta menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat adat sangat penting dalam menjaga stabilitas wilayah.
“Ini adalah bentuk penghormatan kami kepada Kapolda Bengkulu yang telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Enggano. Kami berharap hubungan ini terus terjalin dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolda Bengkulu menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa gelar tersebut akan menjadi amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, keberhasilan menjaga keamanan dan ketertiban tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat kepolisian, melainkan membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat, termasuk komunitas adat. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendorong pendekatan humanis dan kultural dalam setiap pelaksanaan tugas di lapangan.
“Ini bukan hanya penghargaan bagi saya pribadi, tetapi juga untuk seluruh anggota Polri yang terus berupaya hadir di tengah masyarakat, termasuk di daerah terpencil,” ungkapnya.
Momentum ini juga menjadi bukti nyata bahwa pendekatan Polri yang mengedepankan nilai-nilai Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Kehadiran Polri hingga ke pelosok negeri diharapkan mampu menciptakan rasa aman sekaligus menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain itu, kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa. Pulau Enggano yang dikenal memiliki kekayaan tradisi dan adat istiadat yang unik menjadi contoh bagaimana nilai-nilai lokal dapat berjalan seiring dengan modernisasi dan kehadiran institusi negara.
Dengan adanya pengukuhan ini, hubungan antara Polri dan masyarakat adat diharapkan semakin solid. Tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam mendukung pembangunan serta kesejahteraan masyarakat di wilayah terluar Indonesia.
Prosesi adat tersebut ditutup dengan doa bersama dan pertunjukan budaya sebagai bentuk rasa syukur. Suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut, mencerminkan kuatnya ikatan antara aparat negara dan masyarakat adat.
Kehormatan yang diberikan kepada Kapolda Bengkulu menjadi simbol bahwa sinergi antara Polri dan masyarakat adat dapat berjalan harmonis. Dengan semangat “Polri Presisi”, kehadiran aparat diharapkan terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat hingga ke pelosok negeri.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra