TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Pemerintah Kota Bengkulu mulai memperkuat strategi pengelolaan sampah dengan mengubah limbah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan ekonomi. Salah satu upaya yang terus dikembangkan ialah pemanfaatan limbah makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot melalui program Berendo Maggot.
Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat memperoleh sumber pakan alternatif untuk usaha perikanan dan peternakan.
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengatakan, pemerintah daerah telah melakukan komunikasi dengan sejumlah SPPG untuk membangun pola pengelolaan sampah organik dari sumbernya. Menurutnya, limbah basah yang selama ini berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung kegiatan budidaya maggot.
Dedy menjelaskan, konsep tersebut akan diterapkan melalui sistem pemilahan. Sampah organik tidak lagi dicampur dengan jenis sampah lainnya, melainkan dikumpulkan dan diarahkan kepada kelompok atau lokasi yang menjalankan budidaya maggot.
“Kalau ada penampungan sampah basah, limbahnya tidak perlu lagi dibuang karena bisa dimanfaatkan sebagai pakan maggot,” kata Dedy, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, pemanfaatan limbah SPPG dapat menjadi bagian dari solusi pengurangan timbulan sampah sekaligus memberikan manfaat lanjutan bagi masyarakat. Maggot yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ikan maupun ternak.
Pemkot Bengkulu juga menyiapkan arah pengembangan program agar tidak berhenti pada sejumlah lokasi tertentu. Pemerintah menargetkan budidaya maggot dapat berkembang di berbagai kelurahan sehingga pengolahan sampah organik bisa dilakukan lebih dekat dengan sumbernya.
Dedy berharap setiap kelurahan nantinya memiliki kegiatan budidaya maggot yang terhubung dengan sektor peternakan dan perikanan masyarakat.
“Harapan kita seluruh kelurahan bisa melakukan budidaya maggot. Dengan begitu, sampah organik tidak hanya menjadi persoalan, tetapi bisa menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi bagi warga,” ujarnya.
Pengembangan Berendo Maggot menjadi bagian dari konsep pengelolaan sampah berbasis pemilahan yang tengah didorong Pemerintah Kota Bengkulu. Sampah organik atau sampah basah diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot, sementara sampah anorganik seperti plastik dapat dikumpulkan dan disalurkan kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk mengolahnya kembali.
Pola tersebut dinilai dapat mengurangi beban sampah yang harus diangkut menuju TPA. Selain itu, proses pemilahan sejak awal membuat sampah yang masih memiliki nilai manfaat tidak tercampur dengan limbah lainnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu Anshar Amin mengatakan, pihaknya siap mendukung perluasan kerja sama antara SPPG dan pengelola Berendo Maggot di tingkat kelurahan.
DLH, kata Anshar, telah membangun komunikasi dengan sejumlah SPPG terkait penerapan pengelolaan sampah terpilah. Pola kerja sama tersebut akan diperluas agar semakin banyak limbah organik yang dapat dimanfaatkan.
“Kita sudah bekerja sama dengan sejumlah SPPG untuk sampah terpilah. Ke depan, seluruh SPPG di Kota Bengkulu akan kita dorong agar sampah organiknya dapat disalurkan kepada Berendo Maggot di kelurahan yang menjalankan budidaya maggot,” jelas Anshar.
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah kota melalui DLH, tetapi juga SPPG, pemerintah kelurahan, kelompok masyarakat, serta pelaku usaha peternakan dan perikanan.
Melalui pola kolaborasi itu, limbah organik diharapkan tidak lagi dipandang semata sebagai sampah. Bahan yang sebelumnya harus diangkut dan dibuang dapat dimanfaatkan sebagai input produksi untuk menghasilkan maggot.
Pada akhirnya, pengembangan Berendo Maggot di Kota Bengkulu diarahkan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Pengurangan sampah dari sumbernya berjalan beriringan dengan pemanfaatan hasil budidaya untuk mendukung kebutuhan pakan masyarakat.
Pemkot Bengkulu berharap model tersebut dapat berkembang di lebih banyak kelurahan dan menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi volume sampah sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi berbasis masyarakat.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra