Skip to main content

Mbah Tuklyem Terima Bantuan dari Pemkot Bengkulu dan Baznas, Pilih Memaafkan Meski Sempat Kehilangan Hak PKH

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyerahkan bantuan sembako dan santunan kepada Mbah Tuklyem, warga Kelurahan Padang Jati, Kecamatan Ratu Samban, yang sempat kehilangan hak bantuan PKH akibat persoalan administrasi data keluarga. (Foto: Istimewa)

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>  Kisah pilu yang dialami Mbah Tuklyem, warga Kelurahan Padang Jati, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, akhirnya mendapat perhatian luas dari pemerintah dan masyarakat. Setelah namanya menjadi sorotan publik akibat dugaan manipulasi data Kartu Keluarga (KK) yang menyebabkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) miliknya terhenti, kini perempuan lanjut usia tersebut mulai merasakan kembali kehangatan kepedulian dari berbagai pihak.

Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal Mbah Tuklyem didatangi sejumlah pihak yang ingin memberikan dukungan moral maupun bantuan langsung. Pemerintah Kota Bengkulu melalui Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi turun langsung menyerahkan bantuan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi yang dialami warga lansia tersebut.

Bantuan yang diberikan meliputi paket kebutuhan pokok dari Dinas Sosial Kota Bengkulu dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bengkulu. Selain itu, Mbah Tuklyem juga menerima santunan uang tunai yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak berhenti sampai di situ, Baznas Kota Bengkulu turut mengambil langkah cepat dengan menanggung biaya sewa tempat tinggal Mbah Tuklyem selama tiga bulan ke depan. Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi dirinya yang selama ini hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Gelombang solidaritas juga datang dari masyarakat. Sejumlah donatur secara sukarela memberikan bantuan setelah mengetahui kisah yang dialami Mbah Tuklyem melalui berbagai pemberitaan dan media sosial. Dukungan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Bengkulu.

Di tengah perhatian dan bantuan yang terus mengalir, sikap yang ditunjukkan Mbah Tuklyem justru mengundang rasa haru. Meski sempat menjadi korban persoalan administrasi yang berdampak pada terhentinya bantuan sosial yang sangat dibutuhkan, ia memilih untuk memaafkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas masalah tersebut.

Dengan penuh ketulusan, Mbah Tuklyem mengaku tidak ingin menyimpan rasa dendam. Baginya, memelihara amarah hanya akan menambah beban hidup yang sudah cukup berat.

“Saya sudah memaafkan dengan ikhlas. Apa yang terjadi biarlah menjadi pelajaran. Sekarang saya hanya ingin bersyukur karena masih banyak orang yang peduli dan membantu saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kota Bengkulu, Baznas, serta seluruh masyarakat yang telah memberikan perhatian dan bantuan. Menurutnya, dukungan yang diterimanya saat ini merupakan jawaban dari doa-doa yang selama ini ia panjatkan di tengah kesulitan hidup.

“Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Wali Kota, pemerintah, Baznas, dan semua yang telah membantu saya. Bantuan ini sangat berarti dan meringankan beban saya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang diberikan,” katanya.

Kasus yang menimpa Mbah Tuklyem sebelumnya menjadi perhatian publik karena diduga terjadi perubahan data keluarga yang berdampak pada hilangnya hak penerimaan bantuan sosial PKH. Peristiwa tersebut memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat yang berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi kepada warga lain yang benar-benar membutuhkan bantuan pemerintah.

Kini, kondisi Mbah Tuklyem perlahan mulai membaik. Kehadiran pemerintah dan masyarakat yang memberikan dukungan telah menghadirkan harapan baru dalam kehidupannya. Di usia senja, ia kembali merasakan bahwa masih banyak pihak yang peduli terhadap nasib warga kecil.

Kisah Mbah Tuklyem menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat memiliki arti yang sangat besar. Di balik persoalan yang sempat menyisakan luka, solidaritas dan empati dari berbagai kalangan berhasil menghadirkan senyum serta harapan baru bagi seorang nenek yang sebelumnya harus berjuang sendiri menghadapi kesulitan hidup.

Pewarta : Amg 

Editing : Adi Saputra