Skip to main content

Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil Atasi Banjir Tahunan di Kebun Tebeng

Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil Atasi Banjir Tahunan di Kebun Tebeng

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>   Warga Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu, akhirnya bisa bernapas lega setelah puluhan tahun harus berjibaku dengan banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan. Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil yang kini telah memasuki tahap akhir memberikan harapan baru bagi masyarakat yang selama ini terdampak luapan air dari aliran siring setempat.

Pemerintah Kota Bengkulu mengeksekusi proyek ini sebagai respon cepat terhadap keluhan warga yang hampir setiap tahun mengalami kerugian akibat banjir. Intensitas hujan yang tinggi acap kali menyebabkan air meluap, menggenangi permukiman dan merusak tanaman perkebunan sumber mata pencaharian utama masyarakat sekitar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kebun Tebeng, Suherman, mengungkapkan rasa syukur atas terselesaikannya pembangunan fisik jembatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa kehadiran jembatan baru ini merupakan bukti nyata perhatian pemerintah terhadap persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Alhamdulillah, pembangunan sudah hampir tuntas. Ini adalah bentuk respon cepat dari Bapak Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Dinas PUPR Kota Bengkulu. Masyarakat di sini sangat merasakan manfaatnya,” ujar Suherman, Rabu (03/12).

Menurutnya, sebelum jembatan dibangun ulang, aliran air yang deras dari kawasan berbukit kerap meluap dan menimbulkan kerusakan. Tidak hanya menggenangi rumah, luapan air juga memusnahkan tanaman dan kebun warga. Namun kini, setelah struktur jembatan diperbarui, aliran air lebih teratur dan cepat turun ketika hujan lebat mengguyur kawasan tersebut.

“Dulu air sering tak tertahan karena siring di bawah jembatan terlalu kecil, sehingga banjir tak bisa dihindari. Setelah diperbaiki, aliran air jauh lebih lancar dan warga mendapat perlindungan yang lebih baik,” jelasnya.

Selain manfaat teknis, jembatan baru ini juga membawa identitas baru. Pemerintah dan masyarakat sepakat menamainya Jembatan Air Cugung Patil, sebuah nama yang sarat cerita sejarah dan kearifan lokal. Penamaan ini bukan sekadar perubahan label, melainkan upaya menjaga jejak cerita rakyat yang telah hidup lama di wilayah tersebut.

Suherman menjelaskan, istilah Cugung berarti bukit atau gundukan tanah, sementara Patil adalah alat pertukangan tradisional mirip cangkul kecil. Nama itu merujuk pada kisah yang diyakini warga sejak zaman sebelum tahun 1980-an, ketika kawasan Kebun Tebeng masih berupa rawa, sawah, dan perbukitan.

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, terdapat sebuah pohon besar di kawasan tersebut. Ketika pohon itu ditebang, warga menemukan sebuah patil di dalam batangnya. Temuan unik tersebut membuat lokasi itu memiliki nilai historis tersendiri. Di area yang sama, terdapat aliran air deras yang kemudian menjadi tempat berdirinya jembatan baru ini.

“Untuk mengenang sejarah dan topografi masa lalu, kami sepakat menamakannya Jembatan Air Cugung Patil,” kata Suherman.

Pembangunan jembatan ini menjadi contoh kolaborasi yang menggabungkan solusi infrastruktur modern dengan penghormatan terhadap warisan budaya lokal. Selain menyelesaikan persoalan banjir tahunan, jembatan tersebut juga memperkuat identitas kawasan dan menjadi simbol perubahan positif bagi warga Kelurahan Kebun Tebeng.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra