Skip to main content

Posyandu di Kota Bengkulu Gencar Perangi Stunting dengan Penyuluhan dan Bantuan

Kondisi gizi buruk pada ibu hamil dan bayi menjadi penyebab utama stunting pada anak balita.Kamis (1/1)(ft : Istimewa)

TEROPONGPUBLIK.CO.ID >><< Istilah stunting telah menjadi perbincangan yang akrab di kalangan masyarakat, terutama bagi ibu hamil dan orang tua yang memiliki balita. Stunting sendiri mengindikasikan kekurangan gizi kronis yang terjadi selama tahap awal pertumbuhan anak. Dampaknya tidak hanya terbatas pada tubuh pendek, tetapi juga memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan dan perkembangan anak.

Kondisi gizi buruk pada ibu hamil dan bayi menjadi penyebab utama stunting pada anak balita. Beberapa faktor seperti pengetahuan ibu yang kurang memadai, infeksi berulang, dan lainnya dapat menyebabkan gizi buruk. Dampak stunting melibatkan penurunan kecerdasan anak, sistem imun tubuh yang lemah, dan risiko tinggi terkena penyakit serius seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker.

Untuk mengatasi masalah ini, Program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menjadi salah satu solusi dengan melakukan monitoring kesehatan dan perkembangan balita. Peran Posyandu tidak hanya terbatas pada bayi dan balita, namun juga melibatkan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.

Posyandu, yang tersebar di berbagai wilayah, menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting. Melalui program-programnya, Posyandu berhasil menjangkau masyarakat secara langsung, memberikan perhatian khusus pada ibu-ibu untuk memonitor kesehatan anak dan keluarga mereka.

Di Kota Bengkulu, Pemerintah Kota terus meningkatkan peran Posyandu sebagai upaya pencegahan stunting. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Dewi Dharma menyatakan bahwa Pemerintah Kota secara aktif mempersiapkan sarana dan prasarana Posyandu di setiap kecamatan untuk memberikan dukungan yang diperlukan.

Dewi menekankan pentingnya peran Posyandu dalam mencegah peningkatan kasus stunting. Pihaknya secara berkala memberikan penyuluhan kepada para kader Posyandu guna menurunkan prevalensi stunting di masyarakat. Selain itu, DP3AP2KB Kota Bengkulu juga menyalurkan alat bantu seperti alat permainan edukatif dan media penyuluhan kepada Posyandu di berbagai kecamatan.

Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah penyaluran Bina Keluarga Balita (BKB) Kit Stunting, yang berisi buku bahan penyuluhan, alat pantau tumbuh kembang anak, alat permainan edukatif, dan media penyuluhan untuk orangtua. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mendeteksi gejala awal gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pemerintah Kota Bengkulu berkomitmen untuk terus meningkatkan kolaborasi antar sektor guna menekan angka stunting. Dengan program yang difokuskan pada pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan memperkuat pentahelix, diharapkan angka stunting di Kota Bengkulu dapat turun hingga nol kasus pada tahun 2024.

Pewarta : Herdianson 

Editing : Adi Saputra