TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Program penanaman jagung melalui penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Lebong tahun anggaran 2025 Dana Desa dinilai perlu dilakukan evaluasi berbasis indikator teknis produksi. Dalam perspektif keilmuan, keberhasilan budidaya tanaman dapat diukur secara objektif melalui keseimbangan antara input produksi dan output hasil.
Hal tersebut disampaikan oleh Zetik Yumini, S.P, lulusan Sarjana Agroteknologi, yang menjelaskan bahwa jagung hibrida memiliki potensi hasil yang telah terukur secara ilmiah.
“Dalam literatur Agroteknologi, potensi hasil jagung hibrida secara umum berada pada kisaran 3–4 ton per hektare untuk kondisi lapangan normal, dan dapat meningkat apabila faktor lahan, iklim, serta manajemen budidaya berada pada kondisi optimal,” ujar Zetik Yumini.
Menurut Zetik, indikator keberhasilan tidak hanya terletak pada volume panen, tetapi pada nilai efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi.
“Dalam analisis usaha tani, parameter utamanya adalah rasio antara total biaya produksi dengan total penerimaan. Jika rasio tersebut menunjukkan biaya lebih besar dari penerimaan, maka secara ilmiah sistem usaha tersebut dikategorikan tidak efisien dan secara ekonomi mengalami kerugian,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ketidakefisienan produksi umumnya berkaitan langsung dengan kualitas penerapan teknologi budidaya.
“Produktivitas rendah pada input tinggi mengindikasikan adanya masalah struktural dalam sistem produksi, seperti ketidaktepatan pemilihan varietas, kesalahan dosis pemupukan, jarak tanam yang tidak sesuai, atau lemahnya pengendalian organisme pengganggu tanaman,” katanya.
Dalam konteks program BUMDes, Zetik menegaskan bahwa pendekatan ilmiah menjadi penting karena menyangkut penggunaan dana publik.
“Program pertanian berbasis dana desa seharusnya dirancang dengan pendekatan technical feasibility dan economic feasibility. Artinya, sebelum dilaksanakan harus ada perhitungan potensi hasil, estimasi biaya, serta proyeksi keuntungan secara kuantitatif,” ujarnya.
Zetik menilai bahwa tanpa pendekatan tersebut, keberhasilan program sulit diukur secara objektif.
“Evaluasi seharusnya tidak berhenti pada laporan administratif, tetapi menggunakan data produksi riil dan analisis efisiensi. Itu satu-satunya cara agar program pertanian desa dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” pungkas Zetik Yumini, S.P.
Pewarta: Harlis Sang Putra
Editing: Adi Saputra
Program Jagung BUMDes di Kabupaten Lebong Perlu Evaluasi Teknis, Analisis Agroteknologi Tunjukkan Ketidakseimbangan Input dan Output
Ilustrasi Perkebunan Jagung Sumber Foto : Sat Binmas Polres Lebong