TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Pantai Kota Bengkulu tampak lebih semarak dari biasanya. Sejak pagi hari, ratusan warga sudah memadati kawasan Kota Tua untuk mengikuti Festival Yo Botoi-Botoi Tarik Pukek, sebuah agenda budaya yang mengangkat kembali tradisi khas masyarakat pesisir Bengkulu.
Mulai dari pelajar, komunitas pemuda, hingga para ibu dari berbagai organisasi kemasyarakatan, semua larut dalam suasana kebersamaan. Tradisi Narik Pukek, atau menarik jaring bersama-sama, menjadi pusat perhatian sekaligus simbol kuat kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar menangkap ikan, melainkan cerminan nilai gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir. Tak heran, tradisi ini kini telah masuk dalam Kalender Event Nasional sebagai salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan.
Wakil Wali Kota Bengkulu, Ronny PL Tobing, yang turut hadir langsung di lokasi, menyampaikan bahwa Narik Pukek adalah gambaran nyata kehidupan sosial masyarakat Bengkulu yang menjunjung tinggi kebersamaan.
“Tradisi ini mengajarkan bahwa pekerjaan berat tidak bisa diselesaikan sendiri. Semua harus bekerja sama, saling membantu, dan saling percaya. Itulah filosofi utama Tarik Pukek,” ujarnya.
Ronny menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak tergerus zaman. Menurutnya, di tengah modernisasi dan arus teknologi, budaya lokal harus tetap menjadi identitas yang dibanggakan.
“Ini bukan sekadar festival, tetapi upaya menjaga jati diri masyarakat pesisir Bengkulu. Kita ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri,” tambahnya.
Tak hanya atraksi menarik jaring, festival ini juga dimeriahkan berbagai perlombaan yang melibatkan banyak kalangan. Salah satunya adalah lomba mengecat kapal nelayan yang diikuti sekitar 80 armada dengan lebih dari 100 peserta. Kapal-kapal yang biasanya tampak sederhana kini berubah menjadi penuh warna dengan berbagai motif kreatif.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Nina Nurdin, menjelaskan bahwa festival ini dirancang sebagai sarana promosi wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
“Kita tidak hanya menampilkan tradisi, tetapi juga menghadirkan aktivitas yang bisa menarik wisatawan. Ada lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba memasak berbahan dasar ikan, serta pameran UMKM yang didukung sektor perbankan, termasuk Bank Indonesia,” katanya.
Menurut Nina, kawasan Kota Tua memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan. Melalui festival ini, pemerintah berharap kawasan tersebut kembali hidup dan menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Kami ingin Kota Tua tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga pusat kegiatan budaya dan ekonomi kreatif,” jelasnya.
Partisipasi masyarakat menjadi kekuatan utama dalam kesuksesan acara ini. Sejumlah organisasi perempuan seperti PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), hingga komunitas lokal lainnya turut aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.
Keterlibatan para ibu rumah tangga dalam lomba memasak ikan dan pameran produk UMKM menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Festival Yo Botoi-Botoi Tarik Pukek tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal. Melalui tradisi ini, masyarakat Bengkulu diajak untuk kembali mengingat nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, dan saling berbagi yang menjadi fondasi kehidupan pesisir sejak dulu.
Dengan antusiasme warga yang terus meningkat setiap tahunnya, festival ini diharapkan mampu menjadi ikon budaya Bengkulu sekaligus daya tarik wisata yang berkelanjutan di masa depan.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra