TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Suasana hamparan sawah di Dusun Tebing Tinggi, Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan, Jumat (27/2/2026), tampak berbeda dari biasanya. Di tengah bulir padi yang menguning dan siap dituai, Wali Kota Pagar Alam, Ludi Oliansyah, turun langsung mengikuti panen raya bersama para petani yang tergabung dalam Brigade Pangan “Besemah Serame”.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari langkah konkret Pemerintah Kota Pagar Alam dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Panen raya tersebut menjadi simbol optimisme bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, sekaligus penopang utama dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Di tengah para petani yang memanen dengan sabit dan sebagian menggunakan alat modern, Ludi tampak berdialog santai, mendengarkan langsung berbagai masukan terkait kebutuhan pupuk, irigasi, hingga pemasaran hasil panen. Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak ingin hanya hadir saat seremoni, tetapi juga memastikan dukungan berkelanjutan bagi petani.
“Pertanian adalah kekuatan kita. Jika dikelola dengan serius dan kolaboratif, Pagar Alam bukan hanya mampu mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga berkontribusi untuk daerah lain,” ujarnya di sela kegiatan.
Data Dinas Pertanian Kota Pagar Alam menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Sepanjang 2025, produksi beras mencapai 15.000 ton, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 12.000 ton. Lonjakan produksi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari perbaikan jaringan irigasi, penggunaan bibit unggul, hingga peningkatan pendampingan kepada kelompok tani.
Menurut Ludi, tren positif tersebut harus dijaga bahkan ditingkatkan. Ia menekankan pentingnya inovasi dan kemauan untuk terus belajar, baik dalam teknik budidaya maupun manajemen pertanian modern. Pemerintah kota, lanjutnya, akan terus mendorong pelatihan dan penguatan kapasitas petani agar mampu beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim dan dinamika harga pasar.
Brigade Pangan “Besemah Serame” sendiri menjadi contoh kolaborasi yang dinilai berhasil. Kelompok ini tidak hanya fokus pada proses tanam dan panen, tetapi juga membangun sistem kerja bersama yang terorganisir, mulai dari pembagian jadwal tanam hingga pengelolaan pascapanen. Pendekatan kolektif ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan risiko gagal panen.
Kecamatan Dempo Selatan disebut memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan daerah. Struktur tanah yang subur serta ketersediaan sumber air menjadi modal utama. Pemerintah kota berencana menjadikan wilayah ini sebagai sentra pengembangan pertanian berbasis teknologi, termasuk optimalisasi alat dan mesin pertanian untuk mempercepat proses produksi.
Dalam sambutannya, Ludi juga mengajak generasi muda agar tidak ragu terjun ke sektor pertanian. Ia menilai pertanian modern memiliki prospek cerah jika dikelola secara profesional. “Kita perlu anak-anak muda yang kreatif dan melek teknologi untuk membawa pertanian ke level berikutnya,” katanya.
Selain peningkatan produksi, pemerintah daerah juga berkomitmen memperkuat rantai distribusi dan stabilitas harga. Langkah ini dinilai penting agar petani mendapatkan keuntungan yang layak, sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Sinergi dengan berbagai pihak, termasuk penyuluh pertanian dan pelaku usaha, akan terus diperkuat.
Panen raya di Tebing Tinggi pun menjadi momentum refleksi bahwa swasembada pangan bukan sekadar target angka, melainkan gerakan bersama. Dengan capaian produksi yang terus meningkat, Pagar Alam menunjukkan bahwa komitmen dan kerja kolaboratif mampu menghasilkan perubahan nyata.
Ke depan, Pemerintah Kota Pagar Alam berharap capaian produksi beras dapat terus tumbuh setiap tahun. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pendampingan berkelanjutan, serta semangat gotong royong para petani, cita-cita menjadikan Pagar Alam sebagai pusat ketahanan pangan di wilayah Dempo Selatan kian mendekati kenyataan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi saputra