TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Asisten Deputi Perancangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Muh Nurdin, melakukan kunjungan ke posko tanggap darurat di Kelurahan Malabero pada Selasa sore (13/5/2025). Kunjungan ini merupakan bagian dari tindak lanjut pemerintah pusat terhadap musibah tenggelamnya kapal wisata di kawasan Pantai Pulau Tikus yang menelan korban jiwa.
Dalam kunjungan tersebut, Muh Nurdin didampingi sejumlah pejabat dari Pemerintah Kota Bengkulu dan instansi terkait. Di antaranya adalah Asisten II Setda Kota Bengkulu Sehmi, Staf Ahli Wali Kota I Made Wardana, Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu Sahat Marulitua Situmorang, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Yuliansyah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Will Hopi, serta Kepala Dinas Pariwisata Amrullah.
Kepala Dinas Sosial, Sahat Marulitua Situmorang, menjelaskan bahwa kedatangan Asdep merupakan instruksi langsung dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif guna mengetahui kondisi terkini serta kronologi insiden yang terjadi pada kapal wisata tersebut.
“Beliau (Asdep) ingin melihat langsung situasi di lapangan, termasuk bagaimana penanganan terhadap para korban dan penumpang. Sebelumnya, kami juga telah mendampingi kunjungan ke rumah duka, RS Bhayangkara, dan lokasi kejadian di pantai,” ungkap Sahat.
Sahat menambahkan bahwa dalam proses kunjungan ini, Asdep mendapat penjelasan mendetail dari tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pariwisata provinsi dan kota, Basarnas, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Evaluasi dan diskusi lanjutan bersama pemerintah daerah dijadwalkan akan dilakukan pada malam harinya.
“Pemerintah pusat ingin memastikan bahwa penanganan insiden ini dilakukan secara tepat dan cepat. Kami sangat mengapresiasi sinergi semua pihak, termasuk TNI, Polri, dan relawan,” lanjutnya.
Hingga saat ini, data yang dihimpun dari posko mencatat sebanyak 107 orang tercatat sebagai penumpang dalam insiden tersebut. Dari jumlah tersebut, korban meninggal dunia yang sebelumnya dilaporkan sebanyak tujuh orang, kini bertambah menjadi delapan orang.
“Respons cepat pascakejadian menjadi hal penting. Tim langsung melakukan evakuasi, membentuk posko, dan melakukan identifikasi terhadap seluruh korban. Upaya ini memungkinkan data korban dikumpulkan dengan lebih akurat,” tutur Sahat.
Pemerintah Kota Bengkulu dan Pemerintah Provinsi Bengkulu mendapat apresiasi dari pihak Kemenparekraf atas gerak cepat dalam menangani bencana ini. Tidak hanya dalam penanganan korban, tetapi juga dalam upaya pencegahan kejadian serupa di masa depan.
Musibah ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap keselamatan wisata air, khususnya di destinasi wisata yang melibatkan transportasi laut. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan dan kesiapan pelayanan wisata, agar kejadian serupa tidak terulang.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra