Skip to main content

Dari Kebun Bengkulu, Suryono Menantang Dunia dengan Secangkir Kopi

Suryono, petani sekaligus penggerak koperasi kopi Bengkulu, mendorong hasil produksi petani agar tidak berhenti di pasar lokal, tetapi memiliki akses menuju pasar ekspor melalui penguatan koperasi, perusahaan dan teknologi ketertelusuran.

Oleh: Aminudin (ameng .teropongpublik.co.id)

Pagi selalu datang lebih dulu ke kebun.

Di antara barisan tanaman kopi, petani bekerja dengan ritme yang nyaris sama dari hari ke hari. Memeriksa tanaman, merawat kebun, menunggu buah matang, lalu memetik hasil yang selama berbulan-bulan dirawat. Bagi sebagian petani, pekerjaan berhenti ketika hasil panen berpindah tangan.

Namun bagi Suryono, justru di situlah persoalan dimulai.

Ia pernah berada di posisi sebagai petani kopi. Ia memahami bahwa menghasilkan kopi bukan satu-satunya tantangan. Setelah buah dipanen, muncul pertanyaan yang lebih besar: kopi itu akan dijual ke mana, siapa yang akan membelinya, dan seberapa besar nilai yang akhirnya kembali kepada petani?

Pertanyaan sederhana itu kemudian membawanya pada sebuah perjalanan panjang.

Bukan sekadar menjual kopi.

Suryono ingin petani kopi di Bengkulu memiliki jalan sendiri menuju pasar yang lebih luas. Ia kemudian ikut membangun koperasi yang berdiri sejak 2014. Dari koperasi tersebut, lahir unit usaha berbentuk perusahaan yang kemudian menjalankan fungsi sebagai offtaker hasil produksi petani.

Pembagian peran itu dirancang sederhana.

Petani fokus pada kebun.

Perusahaan mengurus pasar.

Tetapi untuk mewujudkannya, perjalanan tersebut tidak sederhana.

Selama ini, posisi petani dalam rantai perdagangan sering kali berada di bagian paling awal. Mereka menghasilkan bahan baku, sementara nilai tambah terbesar dapat terbentuk pada tahap pengolahan, pemasaran dan perdagangan.

Suryono mencoba mengubah cara pandang tersebut.

Melalui koperasi, petani tidak hanya ditempatkan sebagai pemasok kopi. Mereka menjadi bagian dari sebuah ekosistem usaha yang berusaha menghubungkan kebun dengan pasar.

Unit usaha yang dibentuk koperasi diberi tugas menjadi offtaker. Perusahaan itu bertanggung jawab mencari pasar dan menjual kopi, termasuk membawa produk menuju pasar ekspor.

Perusahaan tersebut mulai menjalankan bisnis sejak 2021.

Bagi Suryono, pola tersebut merupakan bagian dari upaya membangun closed loop atau rantai usaha yang saling terhubung.

Petani tidak perlu kehilangan fokusnya pada kebun karena persoalan pemasaran ditangani oleh unit usaha.

Di sinilah perjuangan sebenarnya dimulai.

Sebab membawa kopi keluar dari Bengkulu tidak cukup hanya dengan memiliki produk.

Pasar membutuhkan cerita.

Pasar membutuhkan kualitas.

Pasar membutuhkan kepastian.

Dan pasar internasional menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengatakan bahwa sebuah kopi berasal dari Bengkulu.

Pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak sektor usaha menghadapi ketidakpastian, muncul perubahan dalam cara pasar melihat kopi.

Menurut Suryono, saat itu berkembang tren mengenai sustainability atau keberlanjutan. Kopi tidak lagi hanya dilihat sebagai produk komersial, tetapi juga dikaitkan dengan ekonomi hijau dan pemberdayaan masyarakat.

Perubahan itu menjadi tantangan sekaligus peluang.

Bengkulu memiliki kebun kopi.

Tetapi bagaimana menjelaskan kepada konsumen dunia bahwa di balik secangkir kopi terdapat petani, kebun, koperasi dan proses panjang yang membuat produk tersebut sampai ke tangan mereka?

Suryono memilih menjadikan cerita itu sebagai bagian dari kekuatan produk.

Pasar Eropa dan Amerika memiliki budaya minum kopi yang kuat. Namun menurut pengalaman yang ia ceritakan, tidak semua konsumen di sana memiliki kebun kopi.

Maka yang ditawarkan bukan sekadar biji kopi.

Ada kisah tentang dari mana kopi itu berasal.

Ada kisah tentang petani yang menanamnya.

Ada cerita tentang keberlanjutan.

Ada pula cerita mengenai bagaimana sebuah komoditas dari Bengkulu berusaha menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat di daerah asalnya.

Kopi akhirnya tidak hanya menjadi barang.

Ia menjadi cerita yang dapat dibawa melintasi batas negara.

Tetapi cerita saja tidak cukup.

Suryono kemudian membawa teknologi masuk ke dalam perjalanan tersebut.

Dalam bahan yang disampaikannya, ia menceritakan pengembangan aplikasi bernama Cting X, sebuah aplikasi traceability kopi berbasis blockchain.

Gagasannya cukup berani untuk ukuran usaha yang tumbuh dari sektor pertanian.

Konsumen dapat memindai kopi untuk mengetahui perjalanan produk. Informasi mengenai asal kopi, pihak yang memproses, koperasi, jalur ekspor hingga negara tujuan dapat ditelusuri.

Dengan sistem itu, secangkir kopi tidak lagi hadir sebagai produk tanpa asal-usul.

Ada jejak yang mengikutinya.

Teknologi tersebut sekaligus menjadi cara untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin ingin mengetahui apa yang mereka konsumsi.

Dari mana kopi berasal?

Siapa yang menanamnya?

Bagaimana kopi diproses?

Ke mana kopi itu dikirim?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian dari nilai jual.

Bagi Suryono, inilah salah satu cara agar kopi Bengkulu tidak hanya bersaing melalui harga.

Langkah berikutnya adalah membuktikan bahwa konsep tersebut dapat diterima pasar.

Dalam bahan wawancara, Suryono menyebut kopi yang dikembangkan bersama ekosistem koperasi telah memasuki pasar Jepang dan San Francisco. Ia juga menyebut adanya pembeli yang berkaitan dengan Starbucks Reserve.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kopi yang tumbuh di kebun Bengkulu dapat memiliki perjalanan yang sangat jauh.

Namun setiap keberhasilan juga menghadirkan tantangan baru.

Ketika pasar semakin luas, standar semakin tinggi.

Petani tidak cukup hanya menghasilkan kopi.

Mereka harus mampu menjaga kualitas.

Koperasi harus mampu memastikan pasokan.

Perusahaan harus mampu mencari pembeli.

Dan seluruh mata rantai harus berjalan secara konsisten.

Satu kali ekspor bisa menjadi kebanggaan.

Tetapi mempertahankan kepercayaan pembeli adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Karena itu, perjalanan menuju pasar global bukan perjalanan satu orang.

Ia membutuhkan petani yang mampu menjaga produksi, koperasi yang mampu mengorganisasi anggota, perusahaan yang mampu membaca pasar, teknologi yang memberikan transparansi dan mitra yang bersedia membuka pintu perdagangan.

Perjalanan kopi tersebut berlangsung ketika UMKM Bengkulu secara lebih luas juga mulai mendapat ruang menuju pasar internasional.

Pada September 2026, Bengkulu mencatat ekspor perdana 19,2 ton kopi ke Italia. Pada momentum Karya Kreatif Indonesia 2026, KPw Bank Indonesia Provinsi Bengkulu juga memfasilitasi puluhan UMKM melalui kanal daring dan luring.

Dari kegiatan tersebut tercatat penjualan daring sekitar Rp1,195 miliar dan penjualan luring Rp49,20 juta.

Ada pula peluang yang lahir melalui business matching.

Kopi Bukit Barisan memperoleh Letter of Intent untuk pemesanan awal 500 kilogram green bean kopi Robusta Bengkulu senilai Rp35,5 juta.

CV Jaya Rasa mendapatkan kontrak 500 buah Perut Punai senilai USD1.500 untuk pasar Afrika Selatan.

Angka-angka itu memang penting.

Namun bagi perjalanan Suryono dan petani kopi, makna terbesarnya bukan semata nilai transaksi.

Ada pintu yang mulai terbuka.

Pasar yang dahulu terasa jauh kini dapat disentuh.

Produk yang dulu hanya dikenal di sekitar daerah asalnya mulai memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada konsumen di negara lain.

Pasar global sering kali terlihat indah dari kejauhan.

Namun dari dekat, ia adalah ruang persaingan yang keras.

Produk dari Bengkulu harus berhadapan dengan produk dari daerah lain, bahkan dari negara lain.

Harga dapat menjadi faktor.

Tetapi kualitas, kontinuitas, cerita, identitas, legalitas, kemasan dan kemampuan memenuhi permintaan juga menentukan.

Karena itu, ekspor bukan garis finis.

Ekspor justru menjadi awal ujian berikutnya.

Apakah petani mampu mempertahankan kualitas?

Apakah koperasi mampu menjaga hubungan dengan anggotanya?

Apakah perusahaan mampu memenuhi permintaan?

Apakah pasar akan kembali memesan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah pencapaian hanya menjadi peristiwa atau berubah menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Suryono tampaknya memahami hal tersebut.

Ia tidak sedang sekadar membawa kopi keluar dari Bengkulu.

Ia sedang mencoba membangun jalan agar petani dapat ikut bergerak bersama ketika kopi itu masuk ke pasar global.

Pada akhirnya, cerita Suryono bukan hanya tentang biji kopi.

Ia adalah cerita tentang keberanian mengubah posisi.

Dari petani menjadi penggerak koperasi.

Dari koperasi membangun unit usaha.

Dari unit usaha mencari pasar.

Dari pasar lokal menuju ekspor.

Dari produk biasa menjadi produk yang membawa cerita.

Dan dari kebun yang berada jauh dari pusat perdagangan dunia, lahirlah gagasan bahwa petani pun dapat menjadi bagian dari rantai nilai global.

Perjalanan itu belum selesai.

Masih ada persoalan kualitas, kapasitas, pembiayaan, teknologi, regenerasi petani dan keberlanjutan pasar yang harus dijawab.

Namun setiap perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah yang tampak kecil.

Seorang petani bertanya, “kopi ini akan dijual ke mana?”

Pertanyaan itu kemudian melahirkan koperasi. Koperasi melahirkan perusahaan.

Perusahaan mencari pasar.

Teknologi memberikan jejak.

Dan kopi akhirnya menyeberangi lautan.

Mungkin suatu hari nanti, ketika seseorang di sebuah kafe di Italia, Jepang atau San Francisco menyeruput kopi dari Bengkulu, yang mereka rasakan bukan hanya aroma dan rasa.

Di balik secangkir kopi itu ada tangan petani yang bekerja di kebun.

Ada koperasi yang berusaha menjaga mereka tetap terhubung.

Ada perusahaan yang mencari jalan menuju pasar.

Ada teknologi yang menceritakan asal-usulnya.

Dan ada sebuah mimpi sederhana: agar petani Bengkulu tidak selamanya hanya menjadi orang yang menghasilkan komoditas, tetapi ikut menikmati nilai ketika komoditas itu menjadi produk dunia.

Sebab perjalanan kopi dari Bengkulu ke pasar global pada akhirnya bukan sekadar perjalanan sebuah komoditas.

Itu adalah perjalanan tentang harga diri, nilai tambah dan keberanian sebuah daerah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sesuatu yang tumbuh dari tanahnya layak dipercaya.