TEROPONGPUBLIK.CO.ID — Aroma kopi dari dataran tinggi Kepahiang, Bengkulu, kini mulai bergerak melewati batas pasar domestik. Produk kopi yang dikembangkan pelaku usaha lokal tersebut mencatat langkah baru melalui ekspor perdana ke Italia dengan volume sekitar 19,2 ton.
Pelepasan ekspor tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi perkembangan industri kopi Bengkulu. Bukan sekadar pengiriman komoditas, kegiatan itu menunjukkan bahwa produk UMKM daerah memiliki peluang untuk masuk ke rantai perdagangan internasional apabila kualitas, pengolahan, kemasan, dan pemasaran dilakukan secara konsisten.
Kopi yang dikembangkan oleh Owner Kopi Starbucks Kepahiang, Ardan, tersebut menjadi bagian dari geliat usaha kopi lokal yang terus tumbuh. Produk unggulan yang dikembangkan mencakup kopi arabika dan robusta dengan karakter cita rasa yang menjadi kekuatan kopi dari wilayah Sumatera.
Ardan mengatakan, potensi kopi lokal masih sangat besar untuk dikembangkan. Menurutnya, kopi arabika menjadi salah satu produk yang terus mendapat perhatian, namun pengembangan robusta juga tetap dilakukan untuk memperluas pilihan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar.
Bagi pelaku UMKM, keberhasilan menembus pasar luar negeri tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi. Konsistensi kualitas menjadi faktor penting agar produk mampu mempertahankan kepercayaan pembeli.
Kopi Kepahiang sendiri memiliki peluang besar karena berada dalam kawasan penghasil kopi di Sumatera. Selama ini, nama kopi Sumatera sudah dikenal luas oleh penikmat kopi, baik di dalam maupun luar negeri.
Ardan mencontohkan bagaimana kopi Sumatera yang dikumpulkan dari berbagai daerah dapat masuk dalam jaringan distribusi internasional. Menurut dia, biji kopi yang terkumpul kemudian melalui tahapan pengolahan dan roasting sebelum dipasarkan ke berbagai negara.
“Kopi Sumatra yang diambil dari Medan didistribusikan ke seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia,” ujar Ardan.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi produk siap konsumsi memiliki rantai nilai yang panjang. Petani, pengolah, pemilik merek, roaster, pelaku kedai hingga distributor memiliki peran masing-masing dalam membangun nilai ekonomi kopi.
Perkembangan usaha Kopi Starbucks Kepahiang juga tidak terlepas dari proses pembinaan UMKM. Sebagai salah satu UMKM lokal binaan Bank Indonesia Bengkulu, usaha tersebut terus diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi dan memperluas akses pasar.
Ekspor perdana menjadi sinyal bahwa pembinaan UMKM tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong pelaku usaha memiliki kemampuan membawa produk lokal menuju pasar yang lebih luas.
Bagi Bengkulu, perkembangan ini dapat menjadi peluang untuk membangun ekosistem kopi yang lebih kuat. Kopi tidak lagi cukup dilihat sebagai hasil perkebunan, melainkan sebagai produk bernilai tambah yang dapat dikembangkan dari hulu sampai hilir.
Potensi itu juga terlihat dalam kegiatan coffee tasting yang memperkenalkan berbagai produk kopi lokal. Sejumlah merek yang diperkenalkan antara lain Pasar Coffee, Bermani Coffee, Roda Coffee, Lestari Coffee, Mister Coffee, dan Air Lanang Coffee.
Keberadaan berbagai merek tersebut memperlihatkan semakin banyak pelaku usaha yang mencoba mengolah kopi menjadi produk dengan identitas masing-masing.
Dalam kegiatan bincang dan coffee tasting, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai teknik dasar penyeduhan kopi. Hal yang terlihat sederhana ternyata dapat memberikan pengaruh besar terhadap hasil akhir minuman.
Ardan menjelaskan, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah proportion, yakni perbandingan antara jumlah kopi dan air. Salah satu contoh yang digunakan adalah sekitar 15 gram kopi untuk 270 mililiter air.
Selain takaran, tingkat kehalusan biji kopi atau grind size turut menentukan proses ekstraksi. Untuk metode French press, misalnya, kopi umumnya menggunakan gilingan lebih kasar.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah air. Karakter air, termasuk kandungan mineralnya, dapat memengaruhi rasa yang muncul dari hasil seduhan. Suhu air juga perlu diperhatikan dan berada pada kisaran 91–96 derajat Celsius.
Pemahaman tersebut menjadi penting karena perkembangan industri kopi saat ini tidak hanya berbicara mengenai produksi biji. Konsumen semakin memperhatikan pengalaman, kualitas rasa, metode penyajian hingga cerita di balik produk.
Ekspor perdana sekitar 1,92 ton ke Italia menjadi pijakan awal bagi kopi Kepahiang untuk memperluas pasar. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Jika dikelola secara berkelanjutan, rantai bisnis kopi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi daerah. Nilai ekonomi dapat tumbuh mulai dari petani, pengolah, pelaku UMKM, hingga sektor perdagangan dan pariwisata.
Kopi Kepahiang dengan demikian bukan hanya berbicara tentang secangkir minuman. Di baliknya terdapat peluang untuk memperkenalkan identitas daerah sekaligus membuktikan bahwa produk UMKM Bengkulu mampu bersaing di pasar internasional.
Langkah ekspor tersebut diharapkan menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang, sehingga kopi lokal Bengkulu semakin dikenal dan memiliki posisi kuat dalam peta industri kopi dunia.SEO Title: Ekspor Perdana Kopi Kepahiang 1,92 Ton Tembus Pasar Italia
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra