TEROPONGPUBLIK.CO.ID >><< Pendopo Pat Petulai, sebagai saksi gemerlapnya seni dan budaya, menjadi panggung megah bagi Gebyar Pentas Seni yang menakjubkan. Irama gemuruh dari musik dhol menggema, menyertai langkah elegan para penari, menghidupkan malam Kamis (28/12) dalam suatu peristiwa luar biasa.
Pentas Seni Sanggar Bumei Pat Petulai, yang dirangkaikan oleh Bupati Drs. H. Syamsul Effendi, MM, dimeriahkan oleh kehadiran sejumlah tokoh penting, termasuk para kepala dinas, camat, kades, perwakilan Kepala SPN AKP Hambali, Wadanyon A Pelopor AKP. Anton Anis, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Drs. Nurmantias, M.Si.
"Begitu pentingnya pentas seni ini sebagai dokumentasi bagi Rejang Lebong dalam menjaga, merawat, dan mempertahankan kekayaan budaya daerah," ujar bupati.
Rejang Lebong memiliki kekayaan etnik dan tradisi yang berlimpah, menjadi alasan mengapa acara ini menjadi tonggak bersejarah.
"Pada awalnya, kami berencana untuk menggelar pentas seni ini di TMII Jakarta. Namun, karena keterbatasan anggaran, kami memutuskan untuk menyelenggarakannya di sini. Semoga tahun depan, kita bisa merencanakan acara ini di TMII. Kami berharap dukungan dari pihak DPRD untuk mewujudkan hal ini," tambah bupati.
Hj. Hartini Syamsul, M.Si, selaku Ketua Sanggar Bumei Pat Petulai, yang menjadi pemrakarsa paket "Gebyar Pentas Seni," mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari seluruh sanggar.
"Pentas seni ini menjadi pendorong kreativitas seniman kita untuk menghasilkan karya-karya seni yang mengagumkan, sambil tetap menjaga dan melestarikan budaya lokal," paparnya.
Pendapat senada juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI, Drs. Nurmantias, M.Si. "Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada bupati dan istri yang telah memprakarsai pentas seni ini. Inisiatif ini sangat membantu dalam menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap lestari," ungkap Nurmantias.
Acara dibuka dengan tarian spektakuler dari Sanggar Bumei Pat Petulai yang memukau dengan "Tari Maso Besuko". Tarian kreatif ini menceritakan kebahagiaan dalam menyambut masa panen kopi dan padi yang melimpah.
Tarian lain yang tak kalah menarik adalah Tari Jaipong dari Sanggar Putra Siliwangi Kecamatan Curup. Juga "Tari Melak Ton" dari Kecamatan Sindang Kelingi yang dipimpin oleh Camat Firdaus Affandi, SE. Gerakan tarian ini sangat dinamis, menggambarkan keceriaan anak-anak saat menjemur padi hingga kedatangan orang tua mereka dari sawah.
Sementara Sanggar Binduriang menampilkan "Tari Panen Kopi", ditambah dengan komposisi musik "Ketuk Kecitung" dari Sanggar Bumei Pat Petulai.
"Ada total 28 materi seni yang ditampilkan dalam pentas ini, termasuk 1 solo gitar, 1 komposisi musik ketuk kecitung, dan 19 jenis tari tradisional serta tari kreasi. Sanggar Bumei Pat Petulai mempersembahkan 7 tarian dan 1 komposisi musik. Kami berharap pentas ini bisa menjadi pemicu kreativitas bagi para penggiat seni di Rejang Lebong, di mana masing-masing dari 15 kecamatan menampilkan 1 tari atau musik tradisional," ungkap Kepala Dinas Pora, Drs. Noprianto, M.Pd kepada media center.
Pewarta : Gunawan
Editing : Adi Saputra