TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Semangat kemanusiaan dan kepedulian sosial terus digaungkan para relawan donor darah di Kota Bengkulu. Salah satunya adalah Andi Kurniawan, seorang relawan aktif yang telah rutin mendonorkan darah sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1998. Baginya, menjadi relawan bukan hanya soal ajakan, tetapi tentang memberi contoh nyata kepada masyarakat.
"Kalau kita ingin mengajak orang lain untuk donor darah, maka kita sendiri harus lebih dulu memberi contoh. Jangan hanya sebatas ajakan tanpa tindakan," ungkap Andi saat ditemui di lokasi donor darah kawasan Sekip, Kota Bengkulu.
Meskipun belum tergolong sebagai pendonor dengan jumlah terbanyak, Andi tetap konsisten dalam kegiatannya. Ia mengaku mulai aktif donor darah sejak memenuhi syarat berat badan yang cukup saat duduk di bangku SMA. Sejak itu, kegiatan donor darah menjadi bagian dari gaya hidup sehatnya.
"Donor darah justru bikin kita lebih sehat. Sirkulasi darah lebih lancar, dada terasa lebih lega setelah rutin mendonor. Apalagi kita juga langsung bisa tahu kondisi kesehatan kita dari hasil screening darah," tambahnya.
Menurut Andi, manfaat donor darah bukan hanya terasa secara fisik, tapi juga secara psikologis. Ia mengungkapkan bahwa setelah donor, nafsu makan meningkat dan tubuh terasa lebih bugar. Pola tidur pun tidak terganggu, dan kegiatan sehari-hari tetap bisa dilakukan seperti biasa.
"Kalau ditanya soal efek samping, sejauh ini saya tidak pernah merasakan efek negatif. Justru manfaat positifnya lebih banyak. Nafsu makan meningkat karena tubuh merespon dengan memproduksi sel darah baru. Jadi lebih segar dan sehat," jelasnya.
Andi juga menyinggung pentingnya edukasi terkait donor darah kepada masyarakat, terutama untuk menghilangkan stigma yang masih ada, seperti ketakutan akan tertular penyakit atau menjadi lemas setelah donor.
"Kita harus terus memberikan informasi yang benar. Banyak orang takut donor karena hoaks. Padahal donor darah itu aman, steril, dan malah bikin tubuh kita lebih teratur,” kata Andi.
Senada dengan Andi, Yulia Chairani, seorang relawan perempuan yang juga aktif dalam kegiatan donor darah, menegaskan bahwa donor darah merupakan tindakan kecil yang berdampak besar. Menurutnya, selain membantu sesama, donor darah menjadi bentuk penghematan dalam sektor kesehatan.
“Dengan rutin mendonor, kita bisa mendeteksi dini penyakit, artinya kita juga bisa menghemat biaya pemeriksaan dan pengobatan. Jadi, ini bukan cuma untuk orang lain, tapi juga bermanfaat untuk diri kita sendiri,” ujar Yulia.
Yulia juga menekankan bahwa setiap orang yang memenuhi syarat sebaiknya menjadikan donor darah sebagai kebiasaan. Selain mempererat solidaritas sosial, kegiatan ini juga merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap penyelamatan nyawa.
"Selama tubuh kita masih sehat dan darah kita masih bisa digunakan untuk orang lain, artinya kita punya kesempatan untuk membantu. Jangan tunggu sampai sakit dulu baru sadar pentingnya donor darah," kata Yulia.
Keduanya sepakat bahwa menjadi relawan donor darah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan stok darah di PMI, tapi juga membangun budaya peduli sesama. Mereka berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk ikut berpartisipasi.
“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi? Jangan tunggu orang lain dulu baru ikut. Dengan menjadi contoh, kita bisa memotivasi lebih banyak orang untuk ikut serta,” tutup Andi.
Dalam semangat kemanusiaan ini, Andi dan Yulia terus menjadi teladan bagi masyarakat, bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan sosial sesaat, tapi sebuah langkah kecil yang bisa menyelamatkan banyak nyawa. Mereka percaya, bahwa setetes darah yang disumbangkan hari ini, bisa menjadi harapan bagi kehidupan orang lain esok hari.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra