Skip to main content

Bengkulu Susun RAD 2026–2029 untuk Cegah Ekstremisme Berbasis Kekerasan

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Bengkulu Khairil Anwar membuka kegiatan Penyelarasan dan Sinergi Operasional Penyusunan RAD Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2026–2029 di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Rabu (16/9/2026).

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>> Pemerintah Provinsi Bengkulu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam upaya mencegah berkembangnya ekstremisme berbasis kekerasan yang berpotensi mengarah pada terorisme. Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Penyelarasan dan Sinergi Operasional dalam Implementasi Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2026–2029.

Kegiatan berlangsung di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Rabu (16/9/2026), dan dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar.

Forum ini menjadi ruang untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kerja sama antarlembaga dalam menyusun langkah pencegahan yang dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat.

Dalam arahannya, Khairil Anwar menegaskan bahwa persoalan ekstremisme berbasis kekerasan membutuhkan penanganan secara bersama-sama. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendirian karena potensi penyebaran paham kekerasan dapat muncul di berbagai lingkungan kehidupan masyarakat.

Karena itu, strategi pencegahan perlu dibangun secara berlapis. Keluarga, lembaga pendidikan, lingkungan sosial, organisasi kemasyarakatan hingga ruang digital dinilai memiliki peran penting dalam membangun daya tahan masyarakat terhadap pengaruh paham yang mengarah pada kekerasan.

“Melalui forum ini, saya berharap kita dapat merumuskan program yang konkret, terukur, dan menyentuh langsung masyarakat. Libatkan OPD, TNI-Polri, tokoh agama, perguruan tinggi, serta media, karena pencegahan ekstremisme tidak dapat dikerjakan sendiri-sendiri,” ujar Khairil.

Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur diperlukan agar program yang nantinya dituangkan dalam RAD tidak berhenti pada dokumen perencanaan. Setiap pihak diharapkan dapat mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya sehingga pelaksanaan program memiliki arah yang jelas.

Khairil juga menilai kolaborasi antarsektor dapat menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat Bengkulu. Lingkungan yang memiliki komunikasi dan kepedulian bersama dinilai lebih mampu mendeteksi sekaligus mencegah berkembangnya pengaruh ekstremisme berbasis kekerasan sejak dini.

Selain unsur pemerintah daerah, forum tersebut juga diarahkan untuk membuka ruang keterlibatan aparat keamanan, tokoh agama, kalangan akademisi dan media. Masing-masing unsur memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi, membangun kesadaran publik serta memperkuat penyebaran informasi yang sehat.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bengkulu, Mif Tarul Ilmi, S.Sos., M.Si., menyampaikan harapan agar penyusunan RAD mampu menghasilkan pola pencegahan yang semakin kuat.

Menurut Mif, tujuan utama dari berbagai langkah yang disiapkan adalah menjaga agar masyarakat Bengkulu tidak sampai terpapar dan terlibat dalam tindakan ekstremisme berbasis kekerasan.

“Saya berharap Provinsi Bengkulu cukup sampai pada upaya pencegahan dan tidak sampai pada tindakan,” kata Mif.

Ia menjelaskan, keberadaan RAD 2026–2029 diharapkan menjadi pedoman dalam mengarahkan berbagai program pencegahan secara lebih terstruktur. Dengan adanya keselarasan antarpemangku kepentingan, langkah yang dilakukan tidak berjalan secara parsial, melainkan saling mendukung.

Penyusunan rencana aksi tersebut juga menjadi bagian dari penguatan peran pemerintah daerah bersama masyarakat dalam menciptakan kondisi sosial yang aman dan kondusif. Edukasi, penguatan ketahanan masyarakat dan koordinasi lintas lembaga menjadi bagian penting yang perlu terus dikembangkan.

Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap sinergi yang dibangun melalui forum tersebut dapat menghasilkan program yang relevan dengan kondisi daerah. Dengan pendekatan pencegahan yang melibatkan berbagai elemen, upaya menjaga masyarakat dari pengaruh ekstremisme berbasis kekerasan dapat dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

RAD Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan 2026–2029 selanjutnya diharapkan menjadi instrumen bersama dalam memperkuat koordinasi serta memastikan setiap langkah pencegahan dapat dilaksanakan secara terukur di Provinsi Bengkulu.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra