TEROPONG PUBLIK.CO.ID <<<>>> Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus pembahasan dalam rangkaian Bencoolen Fest 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu. Memasuki hari ketiga, Minggu (11/10/2026), kegiatan yang berlangsung di Bencoolen Mall tersebut menghadirkan talkshow edukatif mengenai pengembangan usaha dan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM.
Diskusi ini menghadirkan Tulus selaku Manager Pengembangan UMKM BI Bengkulu serta perwakilan Bank Sinarmas dan Bank Mega Bengkulu. Dipandu Sofia dari RRI Bengkulu, dialog tersebut menjadi ruang berbagi informasi bagi pelaku usaha, mahasiswa, dan masyarakat yang ingin memulai maupun mengembangkan bisnis.
Dalam pemaparannya, Tulus menekankan bahwa UMKM memiliki posisi strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Pengalamannya mendampingi pelaku usaha sejak 2008 di sejumlah daerah, mulai dari Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Ternate, hingga Bengkulu, membuatnya memahami beragam tantangan yang dihadapi pengusaha kecil.
Menurutnya, kekuatan UMKM tidak hanya terletak pada jumlah unit usaha, tetapi juga kemampuannya membuka lapangan kerja, menciptakan produk inovatif, dan menjaga aktivitas ekonomi masyarakat.
Secara nasional, Indonesia memiliki sekitar 65 juta unit UMKM yang berkontribusi kurang lebih 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Tulus menilai kreativitas dan kemampuan beradaptasi merupakan modal utama agar usaha kecil mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Ketahanan tersebut juga terlihat ketika Indonesia menghadapi gejolak moneter pada 1998–1999, saat sektor usaha kecil menunjukkan peran penting dalam menopang aktivitas ekonomi.
Di tingkat daerah, UMKM juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat sekitar 17 ribu industri kecil dan UMKM pada periode 2024–2025, dengan kemampuan menyerap sekitar 42 ribu tenaga kerja.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan usaha kecil tidak dapat dipisahkan dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja.
Pelaku UMKM sendiri berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian memulai bisnis setelah menyelesaikan pendidikan, sementara lainnya memilih berwirausaha untuk mempertahankan penghasilan akibat perubahan kondisi pekerjaan, termasuk ketika menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Meski memiliki latar belakang berbeda, mereka menghadapi persoalan yang relatif serupa, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kesulitan menjangkau pasar, ketersediaan bahan baku, hingga kebutuhan tempat usaha, peralatan, dan kelengkapan perizinan.
Tulus menjelaskan bahwa persoalan permodalan menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan UMKM untuk berkembang. Berdasarkan pemaparannya, sekitar 30–40 persen UMKM masih mengandalkan modal sendiri untuk menjalankan kegiatan usaha.
Kondisi tersebut membuat akses pembiayaan menjadi penting, terutama bagi pengusaha yang ingin meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, atau memperbaiki sarana usaha.
Saat ini, sumber pembiayaan tidak hanya berasal dari perbankan. Pelaku usaha juga dapat mempelajari berbagai alternatif pendanaan lain sesuai kebutuhan, kelayakan bisnis, dan ketentuan yang berlaku.
Namun, Tulus mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh modal harus diimbangi dengan tata kelola usaha yang baik. Pelaku UMKM perlu memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, mencatat pemasukan serta pengeluaran, dan menyusun perencanaan kebutuhan modal secara terukur.
Dengan administrasi yang tertata, pengusaha dapat menjelaskan kondisi bisnis secara lebih transparan ketika mengajukan pembiayaan kepada lembaga keuangan.
“Ketika mengajukan proposal modal usaha kepada perbankan, pihak bank bisa melihat dengan jelas kebutuhan pembiayaan dan bagaimana usaha tersebut dijalankan,” jelasnya.
BI Bengkulu juga mendorong pengembangan ekosistem bisnis pesantren melalui penguatan kerja sama antarpelaku usaha. Konsep tersebut diharapkan dapat membangun hubungan saling memasok produk dan kebutuhan usaha sehingga aktivitas ekonomi di lingkungan pesantren semakin produktif.
Selain BI Bengkulu, perwakilan Bank Sinarmas turut menjelaskan layanan pembiayaan yang tersedia bagi segmen usaha tertentu. Dalam sesi tersebut, disampaikan bahwa bank tersebut melayani pengajuan kredit bagi petani kelapa sawit perorangan dengan plafon Rp100 juta hingga Rp500 juta.
Pengajuan kredit tersebut mensyaratkan sertifikat kebun milik sendiri sebagai jaminan, dengan ketentuan lebih lanjut mengikuti kebijakan bank. Sementara itu, layanan kredit untuk UMKM rumahan di Bank Sinarmas Bengkulu belum tersedia berdasarkan penjelasan narasumber dalam acara tersebut.
Kehadiran perwakilan perbankan diharapkan membantu peserta memahami karakteristik pembiayaan sekaligus mempersiapkan persyaratan sebelum mengajukan pinjaman. Pelaku usaha tetap perlu menyesuaikan pilihan pendanaan dengan kemampuan membayar dan kebutuhan bisnisnya.
Talkshow tersebut mendapat respons positif dari peserta yang menyampaikan pertanyaan seputar pengembangan usaha dan pembiayaan. Informasi yang diberikan dinilai dapat menjadi bekal bagi pengusaha yang telah menjalankan bisnis maupun masyarakat yang baru merintis usaha.Bencoolen Fest 2026 merupakan bagian dari upaya BI Bengkulu memperkuat daya saing UMKM daerah. Selama tiga hari penyelenggaraan, kegiatan ini juga menghadirkan pameran wastra, produk batik Besurek, serta peragaan busana yang melibatkan Dharma Wanita Pemerintah Provinsi Bengkulu, Bhayangkari, dan sejumlah organisasi perempuan lainnya.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi produk lokal, tetapi juga membuka peluang memperluas jaringan pemasaran dan memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Bengkulu kepada masyarakat.
Malam Minggu (11/10/2026), seluruh rangkaian Bencoolen Fest 2026 dijadwalkan ditutup. Melalui kegiatan ini, BI Bengkulu berharap semakin banyak UMKM lokal mampu memperbaiki pengelolaan bisnis, memperluas akses pasar, dan berkembang menjadi usaha yang lebih kuat serta berdaya saing.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra