TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>> Calon Wakil Gubernur Bengkulu, Meriani, menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa Dina, seorang remaja berusia 16 tahun dari Desa Air Baus 1, Kecamatan Ulu Palik, Kabupaten Bengkulu Utara. Kejadian tragis ini telah memicu kecaman keras dari Meriani terhadap pelaku kekerasan dan juga terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diterima korban.
Meriani menunjukkan kepedulian dengan mengunjungi langsung kediaman Dina untuk memberikan dukungan moral. Ia menyatakan bahwa kasus kekerasan yang dialami Dina adalah bentuk tindakan yang tidak dapat diterima dalam masyarakat. Dina, yang baru berusia 16 tahun, mengalami kekerasan fisik oleh suaminya, yang menyebabkan kondisi kesehatannya memburuk. Setelah insiden tersebut, Dina mengalami muntah-muntah, sakit kepala, dan sakit perut yang parah.
Kondisi kesehatan Dina semakin memburuk setelah menghadiri sidang kedua di Pengadilan Negeri Tais, Seluma. Akhirnya, Dina harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arga Makmur untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, pelayanan kesehatan yang diterimanya di rumah sakit tersebut mendapatkan sorotan serius dari Meriani. Menurut informasi yang diterima, pelayanan yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan medis yang mendesak.
"Saya sangat prihatin dengan apa yang dialami Dina, baik dari kekerasan yang menimpanya maupun dari segi pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Dalam kondisi kritis seperti ini, korban KDRT seharusnya mendapatkan penanganan yang cepat dan prioritas, bukan dihadapkan pada prosedur yang berbelit dan tidak manusiawi," tegas Meriani saat mengunjungi Dina.
Meriani menegaskan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak dapat dibiarkan, dan para korban harus mendapatkan dukungan penuh, termasuk dalam hal pelayanan kesehatan yang memadai. Ia juga menyoroti pentingnya reformasi dalam sistem pelayanan kesehatan, khususnya untuk memastikan bahwa korban kekerasan mendapatkan perawatan yang layak tanpa harus menghadapi hambatan administratif yang memberatkan.
"Pelayanan kesehatan harus responsif dan humanis, terutama bagi korban kekerasan. Kita tidak bisa membiarkan mereka yang sudah mengalami penderitaan hebat harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan pelayanan yang seharusnya menjadi hak mereka," lanjut Meriani dengan nada tegas.
Saat ini, kondisi kesehatan Dina masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Meriani berharap kasus ini mendapat perhatian serius dari pihak terkait, sehingga perbaikan dalam sistem pelayanan kesehatan dapat segera dilaksanakan, khususnya untuk para korban KDRT di Bengkulu Utara. Ia juga menekankan pentingnya langkah-langkah proaktif untuk memastikan bahwa tidak ada lagi korban yang harus menghadapi kesulitan serupa di masa mendatang.
Dengan menyampaikan keprihatinan dan harapan ini, Meriani menegaskan komitmennya untuk mendukung para korban KDRT dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Bengkulu, sebagai langkah nyata untuk melindungi dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang rentan terhadap kekerasan.
Pewarta : Amg
Editing: Adi Saputra