Skip to main content

Fair Play Tercoreng, Wasit Jadi Korban Kekerasan di Piala Soeratin U-15

Fair Play Tercoreng, Wasit Jadi Korban Kekerasan di Piala Soeratin U-15

TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Gelaran Piala Soeratin U-15 yang digadang-gadang menjadi ajang pembinaan generasi muda di dunia sepak bola tanah air ternodai oleh kericuhan yang terjadi di Bengkulu. Insiden tersebut berlangsung dalam laga antara PS Renal Ardana menghadapi Tunas Muda Bengkulu (TMB), ketika keputusan wasit memicu reaksi keras dari pihak klub.

Kericuhan bermula pada menit ke-83 pertandingan. Wasit Aprima Adi P, yang memimpin jalannya laga, mengeluarkan kartu kuning kedua kepada pemain PS Renal dengan nomor punggung 15. Keputusan tersebut otomatis membuat sang pemain harus meninggalkan lapangan karena menerima kartu merah. Namun, keputusan itu tidak diterima dengan lapang dada oleh manajer klub maupun sebagian suporter PS Renal Ardana.

Situasi yang awalnya berjalan normal mendadak berubah panas. Manajer klub bersama beberapa pendukung menyerang wasit dengan cara menendang dan memukul. Tindakan yang mencoreng semangat sportivitas ini sontak mengundang perhatian publik, terlebih karena Piala Soeratin U-15 merupakan kompetisi resmi yang diselenggarakan oleh PSSI untuk membina talenta muda di bawah usia 15 tahun.

Wasit Aprima Adi P mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai pihak panitia tidak memberikan pengamanan yang memadai bagi perangkat pertandingan. “Seharusnya ada perlindungan ketat untuk wasit di lapangan. Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali di laga-laga sepak bola, khususnya di Bengkulu,” ujar Aprima.

Menurutnya, insiden ini tidak hanya merugikan dirinya sebagai pengadil lapangan, tetapi juga merusak citra sepak bola usia muda yang seharusnya menjadi wadah pembinaan dan pembelajaran sportivitas. Meski demikian, Aprima tetap berkomitmen untuk menjalankan tugasnya sebagai wasit. Hingga saat ini ia belum menerima panggilan resmi dari Asprov PSSI Bengkulu terkait insiden tersebut.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Bengkulu bersama Panitia Disiplin (Pandis) langsung mengambil keputusan tegas. Manajer PS Renal Ardana, Berto, dijatuhi sanksi larangan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Asprov PSSI Bengkulu selama enam bulan ke depan. Sementara itu, klub PS Renal dikenai denda sebesar Rp5 juta.

Ketua Komite Wasit Asprov PSSI Bengkulu, Idham Mizi, membenarkan adanya sanksi tersebut. Saat diwawancarai melalui sambungan telepon, ia menegaskan bahwa tindakan tegas harus dilakukan untuk memberikan efek jera. “Klub sudah dijatuhi denda Rp5 juta. Sedangkan manajer Berto dilarang mengikuti kegiatan Asprov selama enam bulan. Keputusan ini diambil untuk menjaga marwah kompetisi,” jelas Idham.

Idham juga menegaskan bahwa Asprov akan terus berupaya memperbaiki sistem pengamanan dalam setiap pertandingan. Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi, baik pemain, manajer, maupun suporter, bisa menjaga sportivitas. “Kompetisi usia muda adalah tempat pembinaan, bukan ajang melampiaskan emosi. Semua pihak harus sadar bahwa sepak bola harus dijaga bersama,” tambahnya.

Piala Soeratin U-15 sendiri merupakan kompetisi yang rutin digelar oleh PSSI sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang. Ajang ini menjadi wadah untuk menyeleksi bakat-bakat muda yang berpotensi masuk ke jenjang lebih tinggi, baik di level regional maupun nasional. Oleh karena itu, kejadian kericuhan seperti ini sangat disayangkan karena dapat menghambat perkembangan pemain sekaligus merusak semangat fair play.

Pengamat olahraga di Bengkulu juga menyoroti peran penting panitia penyelenggara dalam memberikan rasa aman bagi seluruh perangkat pertandingan. Menurut mereka, setiap laga seharusnya diawasi oleh aparat keamanan, mengingat kompetisi sepak bola sering kali melibatkan emosi tinggi dari para pendukung. Tanpa pengamanan yang memadai, risiko terjadinya keributan akan semakin besar.

Masyarakat pecinta sepak bola Bengkulu berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Klub dan manajer diharapkan lebih mengedepankan sportivitas serta memberikan teladan baik bagi para pemain muda. Sebab, sejatinya Piala Soeratin bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga soal pembinaan mental, disiplin, dan nilai-nilai keolahragaan.

Dengan adanya sanksi yang dijatuhkan, diharapkan ke depan kompetisi Piala Soeratin U-15 di Bengkulu bisa berjalan lebih tertib dan profesional. Semua pihak harus menyadari bahwa sepak bola adalah olahraga pemersatu bangsa, bukan ajang pertikaian.
Pewarta: Amg

Editing: Adi Saputra