Oleh : Ameng
BENGKULU <<<>>> Ada kenangan yang semakin lama justru terasa semakin berharga. Waktu boleh berlalu, kehidupan boleh berubah, dan setiap orang telah menempuh jalan masing-masing, tetapi cerita tentang masa sekolah tetap memiliki tempat khusus di hati. Begitulah yang dirasakan Ali Sadik, Aminudin, Erian Fitriansyah, Neni Herlinda, Sanawia, serta teman-teman satu angkatan yang kini tersebar di berbagai tempat.
Bagi mereka, masa ketika mengenakan seragam dan menuntut ilmu di SMP Negeri 5 Kota Bengkulu merupakan salah satu fase kehidupan yang sulit dilupakan. Sekolah yang dahulu dikenal sebagai SMP Negeri 5 Kota Bengkulu itu kini telah menjadi SMP Negeri 7 Kota Bengkulu yang berada di Kelurahan Pasar Bengkulu, Kota Bengkulu.
Puluhan tahun telah berlalu sejak mereka meninggalkan sekolah. Namun, perjalanan waktu ternyata tidak serta-merta menghapus wajah teman, suasana ruang kelas, suara guru ketika mengajar, hingga berbagai kejadian sederhana yang dahulu menghiasi hari-hari mereka.
Justru setelah dewasa, kenangan tersebut semakin terasa istimewa.
Angkatan 1993, Sebuah Cerita yang Tak Selesai
Ali Sadik, Aminudin, Erian Fitriansyah, Neni Herlinda dan Sanawia merupakan bagian dari generasi yang pernah tumbuh bersama di lingkungan SMP Negeri 5 Kota Bengkulu. Mereka mungkin tidak selalu berada di kelas yang sama, tetapi status sebagai satu angkatan membuat hubungan pertemanan tetap terjalin.
Angkatan 1993 menjadi penanda perjalanan yang mempertemukan banyak karakter dalam satu lingkungan pendidikan. Ada yang dikenal pendiam, ada yang gemar bercanda, ada yang aktif dalam berbagai kegiatan, dan ada pula yang selalu menjadi sumber keceriaan bagi teman-temannya.
Perbedaan karakter tersebut justru membuat kehidupan sekolah semakin berwarna.
Dahulu, berbagai tingkah teman mungkin dianggap sebagai hal biasa. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, hal-hal sederhana itu berubah menjadi cerita yang selalu menyenangkan untuk dikenang.
Candaan di sela-sela pelajaran, obrolan ketika jam istirahat, saling mengejek dengan cara yang masih dalam batas pertemanan, mengerjakan tugas bersama, hingga berbagai kejadian spontan di lingkungan sekolah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Kini, cerita-cerita tersebut menjadi semacam harta yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Rindu Suasana Sekolah di Masa Lalu
Ada satu perasaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali mengingat masa sekolah. Bukan hanya rindu terhadap bangunan sekolah, melainkan rindu terhadap suasana dan orang-orang yang pernah mengisinya.
“Seandainya waktu bisa diputar kembali, kami ingin merasakan lagi seperti dulu,” demikian gambaran kerinduan yang dirasakan para alumni angkatan 1993.
Keinginan tersebut bukan berarti mereka ingin mengulang seluruh perjalanan hidup. Mereka hanya ingin kembali merasakan sesaat suasana ketika semuanya masih sederhana.
Saat itu, kebahagiaan tidak membutuhkan fasilitas yang berlebihan. Kehadiran teman sudah cukup membuat hari terasa menyenangkan. Bertemu setiap pagi, mengikuti pelajaran, bercanda, kemudian pulang bersama menjadi rutinitas yang dahulu mungkin dianggap biasa.
Kini, rutinitas tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.
Kesibukan kehidupan membuat masing-masing alumni memiliki tanggung jawab sendiri. Ada yang sibuk dengan pekerjaan, keluarga, usaha, maupun aktivitas lainnya. Jarak juga membuat pertemuan tidak lagi mudah dilakukan seperti ketika masih duduk di bangku sekolah.
Namun, persahabatan tidak selalu membutuhkan pertemuan setiap hari.
Guru, Bagian Penting dari Kenangan
Selain teman, sosok guru juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nostalgia masa SMP. Para guru yang dahulu berdiri di depan kelas bukan hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga ikut membentuk karakter para siswa.
Nasihat, teguran, arahan, hingga cara guru mengajar menjadi bagian dari memori yang masih tersimpan.
Dahulu, teguran seorang guru terkadang terasa berat bagi siswa. Namun setelah dewasa, banyak alumni yang justru memahami bahwa di balik teguran tersebut terdapat perhatian dan harapan agar para siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena itu, ketika mengenang masa sekolah, nama para guru juga menjadi bagian dari cerita yang selalu muncul.
Bagi para alumni, sekolah bukan sekadar tempat memperoleh pendidikan formal. Sekolah menjadi ruang tempat mereka belajar memahami persahabatan, tanggung jawab, kedisiplinan, kebersamaan, sekaligus mengenal berbagai karakter manusia.
Dulu Satu Sekolah, Kini Berbeda Jalan
Waktu membuat setiap orang tumbuh dengan cerita masing-masing. Mereka yang dahulu berjalan bersama menuju sekolah kini telah menjalani kehidupan dengan jalan berbeda.
Ada yang mungkin masih tinggal di Bengkulu, sementara lainnya telah berpindah ke daerah lain. Ada yang masih sering bertemu dengan teman lama, tetapi tidak sedikit pula yang hanya sesekali mendengar kabar melalui komunikasi jarak jauh.
Meski demikian, satu hal tetap sama: mereka pernah menjadi bagian dari satu cerita bernama angkatan 1993.
Tidak ada yang dapat mengembalikan usia mereka seperti dahulu. Seragam sekolah mungkin telah lama disimpan, buku pelajaran telah berganti, dan suasana sekolah juga terus berkembang mengikuti zaman.
Namun, kenangan tidak mengenal perubahan tersebut.
Satu foto lama, satu nama teman, atau satu cerita tentang kejadian lucu di sekolah sudah cukup untuk membawa ingatan kembali ke masa puluhan tahun silam.
Kenangan yang Menyatukan Kembali
Bagi Ali Sadik, Aminudin, Erian Fitriansyah, Neni Herlinda, Sanawia, dan seluruh teman satu angkatan di mana pun berada, mengenang masa sekolah menjadi cara sederhana untuk kembali menyatukan cerita.
Mereka berharap tali silaturahmi antarteman angkatan 1993 tetap terjaga. Sebab, semakin bertambah usia, semakin disadari bahwa pertemanan yang terbentuk sejak masa remaja merupakan sesuatu yang sangat bernilai.
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memiliki kenangan panjang bersama teman-teman yang sama sejak usia sekolah.
Karena itu, nama angkatan 1993 bukan hanya angka. Di balik angka tersebut terdapat puluhan cerita, persahabatan, tawa, perjuangan, dan perjalanan hidup.
SMP Negeri 7 Bengkulu, Menjadi Saksi Sejarah
Perubahan nama dari SMP Negeri 5 Kota Bengkulu menjadi SMP Negeri 7 Kota Bengkulu menjadi bagian dari perkembangan dunia pendidikan. Namun, bagi alumni angkatan 1993, tempat tersebut tetap memiliki nilai emosional yang tidak berubah.
Kelurahan Pasar Bengkulu menjadi saksi ketika mereka pernah tumbuh sebagai siswa. Di lingkungan itulah berbagai cerita masa remaja terbentuk dan kemudian dibawa hingga dewasa.
Bagi generasi sekarang, sekolah tersebut mungkin menjadi tempat belajar seperti biasa. Namun bagi alumni, setiap sudutnya menyimpan kemungkinan cerita masa lalu.
Sekolah menjadi saksi bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang datang dengan seragam, belajar bersama, bercanda, mendapat teguran, mengikuti berbagai kegiatan, dan akhirnya meninggalkan bangku sekolah untuk mengejar masa depan.
Tidak Semua Kenangan Harus Diulang
Nostalgia tidak selalu berarti ingin kembali ke masa lalu. Terkadang, nostalgia adalah cara seseorang mengucapkan terima kasih kepada perjalanan hidup yang pernah dilalui.
Masa SMP mungkin telah berakhir puluhan tahun lalu, tetapi nilai persahabatan yang lahir pada masa tersebut tetap dapat dipelihara hingga sekarang.
Ali Sadik, Aminudin, Erian Fitriansyah, Neni Herlinda, Sanawia, dan teman-teman angkatan 1993 di mana pun berada membawa pesan sederhana: jangan biarkan jarak dan waktu menghapus silaturahmi.
Jika suatu hari kembali bertemu, mungkin usia sudah jauh berbeda dari ketika pertama kali mengenakan seragam sekolah. Rambut mungkin telah berubah, wajah tidak lagi sama, dan kehidupan masing-masing telah penuh dengan cerita.
Namun, ketika nama teman lama disebut, tawa masa sekolah seakan kembali terdengar.
Itulah kekuatan sebuah kenangan.
Masa SMP tidak dapat diputar kembali. Tetapi cerita tentang persahabatan, canda tawa, guru, dan kebersamaan akan selalu hidup selama masih ada yang mengingatnya.
Dan bagi angkatan 1993 SMP Negeri 5 Kota Bengkulu, kenangan itu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai.
Penulis : AMINUDIN (AMENG)