TEROPONGPUBLIK.CO.ID >><< Pemerintah Kota Bengkulu melakukan langkah progresif dengan menjalin kerjasama dengan investor dari perusahaan Swiss Green Projects. Kerjasama ini diarahkan untuk mengelola sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan gas, sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan lingkungan. Investasi sebesar Rp600 miliar rupiah akan dialokasikan untuk mewujudkan proyek ambisius ini.
Proyek ini bertujuan untuk mengubah 40 ton sampah menjadi BBM berkualitas tinggi, dengan angka oktan mencapai 95. Upaya ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil konvensional.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu, Riduan, menjelaskan bahwa realisasi proyek ini direncanakan pada tahun ini, tetapi masih menunggu persiapan lahan yang akan dibebaskan. Dia mengungkapkan bahwa permohonan anggaran pembebasan lahan untuk tahun 2024 telah diajukan ke DPRD. Saat ini, pihaknya sedang melakukan pengkajian untuk menaksir biaya pembebasan lahan sebelum anggaran resmi diajukan.
"Fokus tahun ini adalah melakukan kajian anggaran sebelum memulai proyek. Dan anggaran akan disesuaikan melalui APBD perubahan," tuturnya.
Riduan optimis bahwa setelah pengkajian selesai dan lokasi pembebasan lahan diketahui, proyek tersebut dapat segera dimulai dalam tahun ini. Investasi dijadwalkan akan direalisasikan pada tahun 2024, dengan pemerintah kota Bengkulu menyiapkan lahan seluas minimal 4 hektar sebagai lokasi pembangunan pabrik pengelolaan sampah.
Langkah inovatif ini diharapkan bukan hanya menjadi solusi bagi pengelolaan sampah di Kota Bengkulu, tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk menerapkan solusi ramah lingkungan dalam mengatasi permasalahan lingkungan dan energi.
Sebelumnya, Riduan juga menekankan bahwa sampah-sampah yang memiliki nilai ekonomis tetap bisa diambil oleh masyarakat sekitar. Sedangkan sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis akan diolah menjadi 3 produk utama: minyak, gas, dan energi listrik yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
"Sampah organik dan non-organik akan dipilah menggunakan mesin pengolahan sampah, sehingga dapat diolah menjadi gas, minyak, dan listrik," kata Riduan.
Investor dari Swiss Green Projects, Frederic Haase, menyampaikan bahwa teknologi Swiss dapat membantu mengolah sampah menjadi produk yang kaya manfaat bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Teknologi Swiss dapat membantu pengelolaan sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis menjadi minyak, gas, dan listrik. Tujuannya juga membantu warga sekitar TPA untuk memiliki pekerjaan yang baik," ujar Frederic.
Kerjasama ini bukan hanya tentang pengelolaan sampah, tetapi juga tentang menciptakan dampak positif bagi lingkungan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat setempat. Harapannya, proyek ini akan menjadi contoh keberhasilan dalam penerapan teknologi ramah lingkungan di Indonesia.
Pewarta:Herdianson lEditing : Adi Saputra