TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Provinsi Bengkulu mencatatkan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 206,79, yang disebut sebagai angka tertinggi secara nasional berdasarkan data yang dipaparkan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo. Capaian ini menjadi gambaran penting bagi sektor pertanian Bengkulu sekaligus momentum untuk memperkuat produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Informasi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pendayagunaan Penyuluh Pertanian untuk Mendukung Percepatan Tanam Padi melalui program Model Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Kegiatan berlangsung di Balai Raya Semarak Bengkulu dan dibuka Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, Jumat (30/10/2026).
Dalam forum tersebut, pemerintah menyoroti pentingnya mempertahankan kinerja sektor pertanian daerah, tidak hanya melalui komoditas perkebunan, tetapi juga dengan mempercepat produksi pangan, khususnya padi.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo, menjelaskan bahwa komoditas unggulan perkebunan turut memberikan kontribusi terhadap tingginya Nilai Tukar Petani di Bengkulu. Karet dan kelapa sawit menjadi dua komoditas yang memiliki peranan penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat, terutama bagi petani yang menggantungkan pendapatan pada sektor perkebunan.
Menurut Eko, angka NTP Bengkulu mencapai 206,79 berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat koordinasi tersebut.
Nilai Tukar Petani merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga. Indikator ini dapat membantu menggambarkan perkembangan daya beli petani, meskipun tidak secara langsung menunjukkan besaran pendapatan bersih setiap petani.
Capaian tersebut menjadi modal bagi Bengkulu untuk terus mengembangkan potensi pertanian dan perkebunan. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan bahwa peningkatan nilai ekonomi komoditas diikuti dengan produktivitas yang berkelanjutan, efisiensi biaya usaha tani, serta akses pasar yang semakin baik.
Selain membahas NTP, rapat koordinasi juga menitikberatkan pada percepatan pelaksanaan program PM-AAS untuk mendukung peningkatan produksi padi di Provinsi Bengkulu.
Pemerintah menargetkan luas tanam padi melalui program tersebut mencapai 8.214 hektare. Sementara itu, realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) padi hingga Oktober 2026 tercatat sebesar 1.171,37 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program masih membutuhkan percepatan agar target yang telah ditetapkan dapat dikejar. Karena itu, kesiapan lahan, ketersediaan sarana produksi, pendampingan teknis, serta koordinasi antarpihak menjadi faktor penting dalam pelaksanaannya.
Penyuluh pertanian diharapkan mengambil peran strategis dalam mendampingi petani, mulai dari persiapan lahan hingga proses penanaman. Pendampingan secara langsung juga diperlukan untuk mengidentifikasi kendala di lapangan sehingga langkah penyelesaian dapat dilakukan lebih cepat.
Melalui pendekatan pertanian modern, program PM-AAS diharapkan dapat mendorong pengelolaan usaha tani yang lebih efektif sekaligus memperkuat produksi pangan daerah.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia atas dukungan melalui program PM-AAS. Ia menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemerintah kabupaten dan kota.
Mian meminta jajaran pemerintah daerah tidak hanya melakukan koordinasi administratif, tetapi juga memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai kebutuhan petani di lapangan.
Menurutnya, pengawalan langsung diperlukan untuk mengetahui kondisi lahan, kesiapan petani, serta berbagai hambatan yang dapat memengaruhi percepatan tanam.
Ia menegaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan harus bekerja bersama agar target perluasan areal tanam dapat tercapai. Pemerintah daerah, penyuluh, dan petani perlu membangun koordinasi yang efektif sehingga setiap tahapan program dapat terlaksana secara optimal.
Sinergi tersebut juga penting untuk mencegah keterlambatan pelaksanaan kegiatan, terutama dalam memanfaatkan waktu tanam yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Rapat koordinasi ini turut dihadiri Kepala BBRMP Bengkulu Shanora Yuliasari, Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Bengkulu Sahranudin, Kepala BBPKH Cinagara Inneke Kusumawati, Penjabat Swasembada Pangan Bengkulu Andi M. Idil Fitri, Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu Sri Herlin Despita, serta Manager Penjualan Pupuk Wilayah Jambi dan Bengkulu, Yogihandra.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperkuat pembangunan pertanian. Dukungan kelembagaan, penyediaan sarana produksi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan hasil pertanian.
Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap capaian NTP yang tinggi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produksi padi dan penguatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Melalui optimalisasi peran penyuluh dan percepatan tanam PM-AAS, Bengkulu berupaya memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional. Target perluasan tanam tidak hanya menjadi ukuran keberhasilan program, tetapi juga diharapkan menghasilkan manfaat nyata bagi petani dan perekonomian masyarakat daerah.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra