Skip to main content

Pak Tateng, Perajin Kincir Angin dari Barang Bekas yang Menghidupi Keluarga

Pak Tateng, Perajin Kincir Angin dari Barang Bekas yang Menghidupi Keluarga

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Di tengah hiruk pikuk Kota Bandung, terdapat sosok sederhana yang menginspirasi lewat kreativitas dan ketekunannya. Namanya Pak Tateng, pria berusia 52 tahun yang sehari-harinya menjajakan mainan kincir angin buatan tangan sendiri. Uniknya, bahan utama dari mainan tersebut berasal dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, seperti sedotan es, plastik bekas bungkus necis, dan katembat.

Dengan tangan terampil dan ide kreatif, Pak Tateng mengolah limbah tersebut menjadi mainan yang menarik bagi anak-anak. Kincir angin buatannya berwarna-warni dan mampu berputar kencang saat tertiup angin, memikat perhatian anak-anak kecil yang melihatnya. "Saya hanya pakai bahan rongsokan. Yang penting bisa dipakai lagi dan bermanfaat," ujar Pak Tateng saat ditemui di salah satu sudut taman kota.

Harga jual dari satu kincir angin mainan ini cukup terjangkau, yaitu Rp10.000 per buah. Target pembelinya adalah anak-anak usia Taman Kanak-kanak hingga siswa kelas dua Sekolah Dasar. Dalam sehari, Pak Tateng biasanya bisa menjual sekitar 10 buah kincir angin. Artinya, ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000 per hari, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

Meski penghasilannya tidak besar, Pak Tateng tetap bersyukur. Ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Dengan berjualan kincir angin, ia mampu menghidupi istri dan anak semata wayangnya. "Saya bangga, karena dari barang bekas pun saya bisa cari nafkah. Yang penting halal dan bisa bantu lingkungan juga," ungkapnya dengan senyum hangat.

Selain menjual langsung di pinggir jalan atau taman kota, sesekali ia juga menerima pesanan dalam jumlah besar, misalnya saat ada acara sekolah atau perayaan Hari Anak. Ia berharap ke depannya bisa mengembangkan usahanya, mungkin dengan menjual secara online atau membuka pelatihan kecil bagi warga lain yang ingin belajar mengolah limbah menjadi produk kreatif.

Pak Tateng adalah bukti nyata bahwa dengan semangat dan kreativitas, keterbatasan bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan bermanfaat. Di tengah isu lingkungan yang kian mengkhawatirkan, usahanya juga menjadi kontribusi kecil dalam mengurangi sampah plastik melalui daur ulang.

“Kalau banyak yang bikin kayak gini, mungkin sampah bisa berkurang. Anak-anak senang, lingkungan juga aman,” katanya menutup perbincangan.

Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra