TEROPONGPUBLIK.CO.ID Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Sekretariat Daerah, RA Denni, secara resmi membuka rapat pembahasan dan evaluasi program pengendalian inflasi daerah dalam rangka menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha 1447 Hijriah, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Merah Putih Kantor Gubernur Bengkulu tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan strategis, di antaranya perwakilan Bank Indonesia, BMKG, BPS, Perum Bulog Kanwil Bengkulu, serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Dalam sambutannya, RA Denni menegaskan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok menjelang Iduladha. Menurutnya, momentum hari besar keagamaan kerap diiringi peningkatan permintaan masyarakat yang berpotensi memicu inflasi jika tidak diantisipasi secara matang.
“Persiapan harus dilakukan sejak dini, terutama dalam memastikan ketersediaan bahan pangan dan kelancaran distribusinya. Kondisi global yang dinamis juga perlu menjadi perhatian agar tidak berdampak pada pasokan di daerah,” ujar Denni.
Ia menambahkan, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid. Koordinasi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan pasar.
“Sinergi antarinstansi sangat penting agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan harga tetap terkendali. Ini menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Irfan, memaparkan kondisi inflasi terkini baik secara nasional maupun regional. Ia menjelaskan bahwa inflasi nasional pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam rentang target yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,5±1 persen.
Menurutnya, stabilitas tersebut didukung oleh terkendalinya inflasi inti serta menurunnya tekanan pada kelompok harga bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices).
Di tingkat daerah, Provinsi Bengkulu mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,28 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Meski demikian, secara tahunan inflasi Bengkulu berada di angka 2,85 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan capaian nasional.
“Beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga. Namun, komoditas utama seperti beras, daging ayam, dan telur masih relatif stabil berkat intervensi pemerintah dan distribusi yang lancar,” jelas Irfan.
Ia juga menyoroti bahwa komoditas pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi di Bengkulu, terutama beras dan cabai. Permasalahan klasik seperti distribusi antarwilayah dan ketergantungan pasokan dari daerah lain menjadi tantangan yang perlu terus diatasi.
Ke depan, inflasi di Bengkulu diproyeksikan tetap berada dalam kisaran target. Untuk April 2026, inflasi tahunan diperkirakan berada pada rentang 1,40 hingga 2,40 persen.
Meski demikian, terdapat sejumlah potensi risiko yang perlu diwaspadai. Di antaranya peningkatan permintaan musiman menjelang Iduladha, kemungkinan kenaikan biaya energi dan transportasi, serta ancaman gangguan produksi akibat fenomena El Niño yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun 2026.
Fenomena tersebut berpotensi memicu musim kemarau lebih awal, yang dapat berdampak pada produksi pertanian dan ketersediaan pangan.
Melalui rapat ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap dapat memperkuat koordinasi dan merumuskan langkah strategis yang efektif dalam menjaga stabilitas harga. Upaya pengendalian inflasi tidak hanya difokuskan pada intervensi pasar, tetapi juga pada penguatan sistem distribusi dan peningkatan produksi lokal.
Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus menjaga daya beli masyarakat tetap stabil, khususnya dalam menghadapi momentum Iduladha yang identik dengan lonjakan kebutuhan bahan pokok.
Dengan langkah terukur dan sinergi yang kuat, stabilitas ekonomi daerah diharapkan tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global dan nasional.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra