TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Dalam upaya memperkuat penanganan masalah sampah di Kota Bengkulu, Walikota Dedy Wahyudi akan mengumpulkan seluruh lurah dari 67 kelurahan se-Kota Bengkulu untuk menyaksikan langsung sistem pengelolaan Bank Sampah Kreatif Berseri yang telah sukses dijalankan di Kelurahan Lempuing. Langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan Pemkot Bengkulu dalam menciptakan kota yang bersih, asri, dan sehat.
Walikota menyampaikan bahwa Kelurahan Lempuing akan dijadikan model atau percontohan bagi seluruh kelurahan lainnya. Ia menilai, pola pengelolaan sampah yang dilakukan oleh warga Lempuing telah menunjukkan hasil positif dan sangat layak ditiru. Oleh karena itu, ia ingin seluruh lurah belajar langsung dari lokasi agar dapat mengimplementasikan metode serupa di wilayah masing-masing.
“Seluruh lurah akan saya bawa ke lokasi ini, Bank Sampah Kreatif Berseri Lempuing, agar menjadi percontohan. Karena saya selalu katakan, jika satu kelurahan bisa, maka yang lain pun pasti bisa. Kalau tidak bisa, pasti ada yang salah, baik niat maupun kemauan,” tegas Walikota Dedy, Senin (23/6/2025).
Lebih lanjut, Dedy menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi disikapi secara konvensional. Ia menyadari bahwa persoalan sampah yang terus menumpuk telah menjadi beban bagi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang kapasitasnya semakin kritis. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur, terintegrasi, dan juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Sebelumnya, Walikota telah mengeluarkan instruksi tegas bahwa seluruh kelurahan di Kota Bengkulu wajib memiliki bank sampah. Kewajiban ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi lingkungan dan ekonomi berbasis masyarakat.
“Bank sampah bukan hanya sekadar mengurangi volume sampah, tapi juga membentuk budaya baru. Budaya memilah, mendaur ulang, dan menjadikan sampah sebagai sumber nilai ekonomi,” ujarnya.
Bank Sampah Kreatif Berseri Lempuing sendiri dinilai berhasil karena telah mampu menciptakan siklus pengelolaan sampah yang berdaya guna. Warga tidak hanya sekadar membuang sampah, melainkan memilah dan menyerahkannya ke bank sampah yang kemudian ditukar dengan nilai ekonomis. Bahkan, dari kegiatan ini warga bisa mendapatkan penghasilan tambahan.
Konsep bank sampah berfungsi sebagai sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah secara komersial. Masyarakat bisa menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan botol bekas ke bank sampah, lalu mendapatkan imbalan berupa uang atau tabungan. Sampah-sampah tersebut kemudian dijual ke pihak pengepul atau daur ulang, sehingga meminimalisir limbah yang berakhir di TPA.
Selain manfaat ekonomis, bank sampah juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Dengan semakin banyaknya sampah yang didaur ulang, maka lingkungan akan menjadi lebih bersih, bebas dari pencemaran, dan tentu saja lebih sehat. Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan juga meningkat.
Dedy berharap, setelah menyaksikan langsung keberhasilan Lempuing, para lurah akan segera melakukan langkah konkret di wilayahnya masing-masing. Pemkot Bengkulu juga akan memberikan dukungan, baik dalam bentuk pelatihan, penyediaan sarana, maupun pendampingan teknis untuk memastikan setiap kelurahan mampu menjalankan bank sampah secara berkelanjutan.
“Ini adalah momentum perubahan. Kita ingin menjadikan Kota Bengkulu sebagai kota yang bukan hanya bersih secara fisik, tetapi juga memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan,” tutup Dedy.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi transformasi besar dalam pengelolaan sampah di tingkat kelurahan, serta menjadi fondasi bagi kota yang lebih sehat, mandiri, dan peduli lingkungan di masa depan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra