TEROPONGPUBLIK.CO.ID — Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bengkulu mulai menunjukkan progres dalam membangun pola pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, serta kebiasaan positif para peserta didik.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bengkulu, Yuliarma Yenny, mengatakan lembaga pendidikan tersebut hadir dengan tujuan besar agar tidak ada anak di Provinsi Bengkulu yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
“Jangan sampai ada anak Provinsi Bengkulu yang tidak sekolah,” ujar Yuliarma saat menjelaskan perkembangan pelaksanaan program Sekolah Rakyat di Bengkulu.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bengkulu mulai beroperasi di gedung permanen pada 20 Juni 2026. Sekolah tersebut mengakomodasi tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saat ini, jumlah peserta didik yang mengikuti program tersebut mencapai sekitar 310 orang. Seluruh siswa mengikuti sistem pendidikan berasrama sehingga proses pembinaan berlangsung sepanjang hari.
Menurut Yuliarma, konsep pendidikan di Sekolah Rakyat tidak berhenti ketika kegiatan belajar mengajar di ruang kelas selesai. Para siswa justru dibimbing melalui pola daily activity yang mengatur aktivitas mereka sejak bangun hingga kembali beristirahat pada malam hari.
Rutinitas tersebut dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Siswa dibiasakan bangun pagi, membersihkan diri dan kamar, kemudian melaksanakan ibadah. Bagi siswa Muslim, salat lima waktu secara berjamaah menjadi bagian dari pembiasaan yang diterapkan.
Setelah menjalankan aktivitas pagi, siswa mengikuti sarapan bersama sebelum melanjutkan kegiatan pendidikan. Pola tersebut dirancang untuk membangun keteraturan dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sini semuanya teratur. Ada waktu untuk bangun, membersihkan diri, beribadah, makan, belajar dan kegiatan lainnya. Jadi pembelajaran bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui aktivitas sehari-hari,” jelas Yuliarma.
Menariknya, Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Bengkulu terbuka bagi peserta didik dari berbagai latar belakang agama. Pihak sekolah berupaya memastikan setiap anak memperoleh hak menjalankan keyakinannya masing-masing.
Fasilitas tempat ibadah juga telah disiapkan. Guru agama turut tersedia untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan peserta didik. Untuk siswa beragama Kristen yang jumlahnya masih terbatas, pihak sekolah memberikan fasilitas dengan mengantar mereka mengikuti kegiatan ibadah di gereja setiap hari Minggu.
Dengan pola tersebut, aspek pendidikan agama tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa tanpa mengesampingkan keberagaman yang ada di lingkungan sekolah.
Yuliarma menegaskan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya bergantung pada pihak sekolah. Dukungan orang tua, pemerintah daerah dan masyarakat luas dinilai sangat diperlukan agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal.
Ia berharap Sekolah Rakyat mampu menjadi salah satu instrumen untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Para siswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki karakter, keterampilan, kemandirian dan bekal ekonomi ketika menyelesaikan pendidikan.
“Harapannya, setelah tiga tahun di jenjang SMA, anak-anak sudah memiliki bekal ilmu, karakter dan keterampilan ekonomi untuk melanjutkan kehidupan mereka,” katanya.
Terkait penerimaan peserta didik, salah satu kriteria utama program ini menyasar keluarga yang berada pada kelompok desil 1 dan desil 2. Namun, kondisi di lapangan tetap menjadi pertimbangan apabila terdapat anak yang membutuhkan akses pendidikan melalui program tersebut.
Pihak terkait dapat melakukan penyesuaian berdasarkan data dan hasil verifikasi sehingga kesempatan memperoleh pendidikan tetap terbuka bagi anak yang memenuhi kebutuhan program.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra