TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>>> Persoalan sampah tidak hanya membutuhkan upaya pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga inovasi agar limbah yang dihasilkan masyarakat dapat kembali memiliki manfaat. Langkah tersebut mulai dikembangkan Pemerintah Kota Bengkulu melalui pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot.
Program pengolahan sampah organik itu salah satunya dikembangkan di Berendo Maggot Kelurahan Tanah Patah, Jalan Musium, RT 9/RW 3, Kota Bengkulu. Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) tahun 2026.
Program tersebut mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi. Menurutnya, pengelolaan maggot di Tanah Patah dapat menjadi model awal yang nantinya dikembangkan di wilayah kelurahan lainnya.
Dedy menilai konsep tersebut menarik karena tidak berhenti pada pengolahan sampah saja. Budidaya maggot dapat dikombinasikan dengan sektor peternakan dan perikanan sehingga menghasilkan sistem yang saling mendukung.
“Ini kita mulai dari Kelurahan Tanah Patah bersama mahasiswa KKN UMB. Ternyata pengolahan maggot bisa terintegrasi dengan kolam lele dan budidaya itik. Ini akan menjadi contoh yang bisa kita kembangkan di kelurahan lain,” ujar Dedy, Kamis (10/9/2026).
Dalam konsep tersebut, sampah organik atau sampah basah yang sebelumnya dibuang begitu saja dimanfaatkan sebagai media pakan larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Larva yang dikenal sebagai maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif.
Pemanfaatan itu dinilai memberikan dua manfaat sekaligus. Di satu sisi, volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan dapat ditekan. Di sisi lain, hasil budidaya maggot memiliki nilai guna untuk mendukung kegiatan budidaya ikan dan ternak.
Sementara untuk sampah anorganik seperti plastik, Pemkot Bengkulu melihat sudah tersedia pihak-pihak yang dapat menampung dan mengelolanya untuk proses pemilahan maupun daur ulang.
Dedy mengatakan, pemerintah kota juga mulai mempertimbangkan dukungan melalui anggaran kelurahan agar pengembangan budidaya maggot dapat dilakukan lebih luas. Namun, rencana tersebut masih harus disesuaikan dengan aturan dan mekanisme penganggaran yang berlaku.
“Kalau memungkinkan, kita berharap ada dukungan dari dana kelurahan untuk pengelolaan maggot. Tetapi tentu harus kita lihat terlebih dahulu regulasi yang mengaturnya,” jelasnya.
Bagi Pemkot Bengkulu, keberhasilan program bukan hanya diukur dari munculnya lokasi budidaya baru. Konsistensi menjadi faktor penting agar kegiatan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap lingkungan dan perekonomian masyarakat.
Dedy mengingatkan agar program pengelolaan sampah berbasis maggot tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Menurutnya, diperlukan kesinambungan antara pemerintah kelurahan, masyarakat, mahasiswa, serta kelompok pengelola agar kegiatan dapat terus berjalan.
“Jangan sampai hanya ramai ketika awal dimulai, kemudian berhenti. Harus terus dilakukan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna bisa kita ubah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tegas Dedy.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap mahasiswa KKN UMB yang telah berkolaborasi dengan pemerintah kelurahan dalam menghadirkan inovasi sederhana namun memiliki manfaat nyata.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani melalui kerja sama berbagai pihak. Pemerintah tidak harus bekerja sendiri, tetapi dapat menggandeng perguruan tinggi dan masyarakat untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ke depan, konsep Berendo Maggot di Tanah Patah diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengolahan sampah organik, tetapi berkembang sebagai pusat edukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah, budidaya maggot, perikanan, hingga peternakan.
Dengan pengelolaan yang konsisten, sampah organik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan berpeluang berubah menjadi sumber manfaat baru. Konsep sederhana tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya Kota Bengkulu membangun lingkungan yang lebih bersih dan produktif.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra