Skip to main content

Dedy Wahyudi: Pilah Sampah Bisa Pangkas Volume hingga 50 Persen

Dedy Wahyudi: Pilah Sampah Bisa Pangkas Volume hingga 50 Persen

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong perubahan pola pikir masyarakat terkait pengelolaan sampah. Ia menilai persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan konvensional, melainkan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Salah satu langkah paling realistis dan mudah diterapkan adalah pemilahan sampah sejak awal.

Dalam berbagai kesempatan, Dedy terus mengajak warga Kota Bengkulu untuk membiasakan diri memisahkan sampah organik dan anorganik. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini memiliki dampak besar dalam mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Ia menekankan bahwa sampah organik yang dikelola secara mandiri dapat diolah menjadi kompos, sehingga tidak perlu lagi dibuang bersama sampah lainnya.

Dedy menjelaskan bahwa sampah rumah tangga didominasi oleh sisa makanan, daun, dan limbah dapur lainnya yang sejatinya masih memiliki nilai guna. Jika seluruh masyarakat mau mengelola sampah jenis ini secara mandiri, maka beban pengangkutan dan penumpukan sampah dapat ditekan secara signifikan. Bahkan, ia menyebut pengurangan volume sampah bisa mencapai lebih dari separuh dari total produksi harian rumah tangga.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu kebijakan besar. Mulailah dari rumah masing-masing. Pemilahan sampah organik dan anorganik terbukti efektif menekan volume sampah hingga lebih dari 50 persen,” kata Dedy saat ditemui awak media, Rabu (28/1/26).

Tidak hanya menyampaikan imbauan, Dedy juga menegaskan bahwa dirinya telah lebih dahulu menerapkan sistem tersebut di lingkungan keluarga. Ia menceritakan pengalaman pribadinya sebagai bukti bahwa pemilahan sampah bukan sekadar teori, melainkan solusi nyata yang bisa dilakukan siapa saja tanpa biaya besar.

Menurut Dedy, sebelum memilah sampah, rumah tangganya bisa menghasilkan dua kantong sampah setiap hari. Namun setelah sampah organik dipisahkan dan dikelola, jumlah tersebut berkurang drastis. Kini, hanya sekitar setengah kantong sampah yang perlu dibuang setiap harinya.

“Awalnya mungkin terasa merepotkan, tapi setelah dibiasakan justru terasa ringan. Hasilnya nyata. Sampah jauh berkurang dan lingkungan rumah juga lebih bersih,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dedy menyoroti kondisi Tempat Pemrosesan Akhir Air Sebakul yang saat ini menampung ribuan ton sampah setiap bulan. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas masyarakat, volume sampah yang masuk ke TPA terus mengalami peningkatan. Jika tidak ada langkah konkret dari hulu, maka daya tampung TPA dikhawatirkan akan cepat mencapai batas maksimal.
Ia menegaskan bahwa upaya menjaga kebersihan kota tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas kebersihan atau pemerintah daerah. Peran aktif masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

“Petugas kebersihan sudah bekerja keras setiap hari. Namun tanpa kesadaran masyarakat, persoalan sampah tidak akan pernah selesai. Kita harus bergerak bersama, mulai dari kebiasaan kecil,” ujarnya.

Dedy berharap, gerakan memilah sampah dari rumah dapat menjadi budaya baru di Kota Bengkulu. Ia optimistis jika kebiasaan ini diterapkan secara konsisten, maka usia pakai TPA Air Sebakul bisa diperpanjang dan kualitas lingkungan kota akan semakin baik.

Selain berdampak pada kebersihan, pengelolaan sampah yang baik juga dinilai mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman. Dedy pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, komunitas, hingga lingkungan pendidikan, untuk bersama-sama membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jika setiap rumah mau memilah sampah, Kota Bengkulu akan menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra