TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>>> Sebuah peristiwa yang jarang terjadi menjadi perhatian di Kota Bengkulu. Seorang ibu rela mengantar putranya yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar ke Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu. Tujuannya bukan untuk memberikan hukuman, melainkan meminta pembinaan agar sang anak mendapatkan motivasi dan arahan yang lebih baik.
Anak berinisial Je (13), warga Kelurahan Anggut Dalam, datang bersama ibunya, Dahliani, setelah sang ibu lebih dahulu menghubungi Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat Marulitua Situmorang, melalui aplikasi WhatsApp. Dalam pesannya, Dahliani menceritakan perilaku putranya yang dinilai mulai sulit dikendalikan.
Menurut pengakuannya, Je lebih sering menghabiskan waktu bermain PlayStation daripada belajar. Selain itu, ia juga disebut kerap bermain hingga lupa waktu dan pernah beberapa kali masuk ke rumah warga tanpa izin, sehingga membuat orang tuanya khawatir.
Merespons permintaan tersebut, Sahat tidak ragu mempersilakan ibu dan anak itu datang langsung ke kantornya agar dapat berbincang secara santai sekaligus memberikan pembinaan secara langsung.
Hal yang menarik, Je dan ibunya memilih berjalan kaki dari kediamannya di Kelurahan Anggut Dalam menuju Kantor Satpol PP Kota Bengkulu. Perjalanan tersebut menjadi bukti kesungguhan sang ibu untuk mencari solusi terbaik bagi perkembangan karakter anaknya.
Sesampainya di kantor, suasana yang diperkirakan akan penuh ketegangan justru berubah menjadi penuh keakraban. Je tampak antusias karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan Sahat, sosok yang selama ini hanya dikenalnya melalui berbagai video kegiatan Satpol PP yang ramai beredar di media sosial.
Anak tersebut mengaku sering menyaksikan aksi Sahat saat memimpin penertiban pedagang kaki lima, razia rumah kos dan hotel, operasi minuman keras, hingga penanganan gelandangan dan pengemis di Kota Bengkulu.
Alih-alih memberikan hukuman atau teguran keras, Sahat memilih pendekatan persuasif. Ia mengajak Je berbincang mengenai aktivitas sehari-hari, cita-cita, hingga pendidikan. Bahkan, Je juga diminta menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur'an serta menghafal surat-surat pendek sebagai bagian dari pembinaan karakter dan spiritual.
Setelah sesi dialog selesai, Je mendapatkan motivasi berupa nasihat agar lebih rajin belajar, menghormati orang tua, serta mengisi waktu liburan dengan kegiatan yang bermanfaat. Sebagai penyemangat, Satpol PP juga memberikan uang saku kepada Je sebagai bentuk apresiasi.
"Sebenarnya anak ini memiliki potensi yang baik. Setelah kami berbincang, ternyata dia termasuk siswa yang memiliki prestasi di sekolah. Hanya saja, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja, perhatian terhadap aktivitas anak menjadi berkurang sehingga perilakunya sering disalahartikan sebagai kenakalan," ujar Sahat.
Ia menjelaskan bahwa kasus seperti ini ternyata bukan yang pertama. Dalam beberapa hari terakhir, sudah ada tiga anak yang datang bersama orang tuanya ke Kantor Satpol PP dengan tujuan meminta pembinaan dan motivasi.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap Satpol PP. Jika dahulu lembaga ini lebih dikenal sebagai aparat penegak peraturan daerah, kini sebagian masyarakat juga melihat Satpol PP sebagai tempat berkonsultasi mengenai pembinaan karakter anak.
Menurut Sahat, banyak orang tua yang secara spontan menyebut nama Satpol PP ketika ingin menasihati anak mereka.
"Kalau anak terlalu lama bermain handphone, orang tuanya bilang nanti dilaporkan ke Satpol PP. Begitu juga saat anak tidak mau makan, bermain PlayStation sampai larut, atau tidak segera pulang ke rumah. Ternyata hal itu justru membuat anak-anak penasaran ingin mengenal Satpol PP lebih dekat," jelasnya.
Karena itu, setiap anak yang datang ke kantor tidak pernah diperlakukan dengan cara menakut-nakuti. Sebaliknya, mereka diperkenalkan mengenai tugas dan fungsi Satpol PP sebagai pelayan masyarakat, diajak berdialog, bahkan dipersilakan duduk di kursi Kepala Satpol PP agar tumbuh motivasi untuk memiliki cita-cita yang tinggi.
Selain memberikan pembinaan kepada anak, Satpol PP juga mengajak orang tua berdiskusi mengenai pentingnya komunikasi dalam keluarga. Menurut Sahat, anak-anak yang aktif belum tentu merupakan anak bermasalah. Mereka hanya membutuhkan perhatian, pendampingan, serta ruang untuk menyalurkan energi melalui kegiatan yang positif.
Ia berharap sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dapat terus diperkuat sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter.
Sahat mengaku bangga karena beberapa anak yang pernah datang ke kantornya bahkan menyampaikan keinginan untuk menjadi anggota Satpol PP, bahkan bercita-cita menjadi Kepala Satpol PP Kota Bengkulu.
"Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Artinya, anak-anak mulai memahami bahwa Satpol PP bukan hanya bertugas menegakkan peraturan daerah, tetapi juga hadir untuk memberikan perlindungan, ketertiban, dan pembinaan kepada masyarakat. Mudah-mudahan pengalaman mereka datang ke sini menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan," tutupnya.
Pewarta : Amg
Editing ; Adi Saputra