TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Keseriusan Pemerintah Kota Bengkulu dalam membenahi wajah pasar tradisional mulai menunjukkan hasil nyata. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi bersama Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing, upaya penataan pasar dilakukan secara bertahap dengan pendekatan persuasif dan humanis, merespons keluhan masyarakat terkait kondisi pasar yang semrawut, kumuh, dan mengganggu ketertiban umum.
Alih-alih mengedepankan tindakan represif, Pemkot Bengkulu memilih jalan dialog dan pendekatan kekeluargaan kepada para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di trotoar, badan jalan, hingga area parkir pasar. Strategi ini terbukti efektif. Sejumlah besar pedagang akhirnya bersedia direlokasi secara sukarela ke lapak dan los resmi yang telah disiapkan pemerintah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu, Alex Periansyah, mengakui bahwa proses meyakinkan para pedagang bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran, komunikasi intensif, serta kehadiran pemerintah di tengah pedagang untuk membangun rasa percaya.
“Tidak bisa sekali dua kali langsung mau. Kami harus bolak-balik melakukan pendekatan, menjelaskan manfaatnya, dan memastikan mereka tidak dirugikan,” ujar Alex saat diwawancarai Media Center, Rabu (28/1/2026).
Menurut Alex, dalam pelaksanaannya memang sempat terjadi ketegangan, khususnya dengan pedagang yang masih bertahan di area terlarang seperti trotoar dan kawasan parkir. Namun, Pemkot tetap berpegang pada arahan Wali Kota agar penataan dilakukan tanpa paksaan.
“Pesan Pak Wali Kota jelas, kita ajak yang mau saja. Yang belum bersedia tidak perlu dipaksa. Pendekatannya harus manusiawi,” tuturnya.
Hasilnya kini mulai terlihat di sejumlah titik pasar. Di Pasar Barukoto I, sebanyak 20 PKL kuliner telah secara sukarela menempati lapak di lantai satu gedung pasar. Sementara itu, di kawasan Pasar Panorama, progres relokasi terbilang signifikan. Sebanyak 175 PKL yang sebelumnya berjualan di luar area pasar kini telah masuk dan menempati lapak resmi di dalam pasar.
Alex juga mengungkapkan bahwa seluruh PKL yang sebelumnya berjualan di depan pintu masuk Pasar Panorama, berjumlah 27 orang, kini telah direlokasi sepenuhnya. Menariknya, proses relokasi dilakukan secara mandiri oleh para pedagang, mulai dari membongkar hingga membangun kembali lapak mereka di lokasi baru.
“Ini menunjukkan kesadaran pedagang sudah tumbuh. Mereka paham bahwa pasar yang tertata justru akan menguntungkan semua pihak,” jelas Alex.
Melihat tren positif tersebut, Disperindag optimistis penataan PKL di kawasan KZ Abidin I juga akan berjalan lancar. Pemkot Bengkulu telah menyiapkan lokasi relokasi yang representatif, yakni di dalam Pasar Tradisional Modern (PTM) serta area Mega Mall.
Tak hanya menyediakan tempat, Pemkot Bengkulu juga memberikan stimulus bagi para pedagang yang bersedia masuk ke dalam pasar. Sesuai instruksi Wali Kota, pedagang yang direlokasi akan digratiskan biaya sewa lapak selama tiga bulan sebagai bentuk dukungan awal.
Alex menegaskan bahwa kebijakan penataan ini bukanlah upaya menggusur atau mematikan mata pencaharian pedagang. Sebaliknya, langkah ini diambil demi menciptakan ruang kota yang tertib, nyaman, dan aman bagi semua.
“Pedagang tetap bisa berjualan dengan lebih layak, pembeli lebih nyaman bertransaksi, dan hak pengguna jalan serta pejalan kaki juga terjaga,” pungkasnya.
Dengan pendekatan dialog dan solusi yang saling menguntungkan, Pemkot Bengkulu berharap wajah pasar tradisional ke depan semakin tertata, bersih, dan menjadi pusat ekonomi rakyat yang berdaya saing tanpa mengorbankan kemanusiaan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra