TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Perkembangan harga sejumlah kebutuhan masyarakat di Kota Bengkulu sepanjang Oktober 2026 menunjukkan adanya tekanan inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) tercatat sebesar 3,29 persen. Sementara itu, inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) mencapai 0,45 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada angka 111,90.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Bengkulu, Iin Inayati, dalam kegiatan Press Release Berita Resmi Statistik (BRS) Oktober 2026 yang berlangsung di Kantor BPS Kota Bengkulu, Senin (2/11/2026).
Dalam pemaparannya, Iin menjelaskan bahwa perkembangan inflasi tersebut dipengaruhi oleh pergerakan harga berbagai komoditas yang masuk dalam kelompok pengeluaran masyarakat. Salah satu kelompok yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kenaikan harga adalah makanan, minuman, dan tembakau.
Pada penghitungan inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat memberikan andil sebesar 1,29 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan harga kebutuhan konsumsi sehari-hari masih menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi tingkat inflasi di Kota Bengkulu.
Sejumlah komoditas yang tercatat dominan mendorong inflasi tahunan meliputi bensin, emas perhiasan, angkutan udara, ikan dencis, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM). Perubahan harga barang dan jasa tersebut turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan indeks harga konsumen selama satu tahun terakhir.
Di sisi lain, terdapat pula sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan tekanan deflasi. Beberapa di antaranya adalah bawang merah, santan segar, jengkol, tarif rumah sakit, serta susu bubuk untuk balita.
Kelompok kesehatan tercatat tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan inflasi tahunan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga dengan tingkat yang sama.
Sementara itu, jika dilihat dari perkembangan bulanan, inflasi Kota Bengkulu pada Oktober 2026 mencapai 0,45 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 0,28 persen.
Kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi bulanan antara lain cabai merah, angkutan udara, beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan cabai rawit.
Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit menjadi perhatian karena kedua komoditas tersebut merupakan bagian dari kebutuhan konsumsi masyarakat. Begitu pula dengan beras yang memiliki peranan penting dalam pengeluaran rumah tangga.
Meski demikian, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok pakaian dan alas kaki justru memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen terhadap perkembangan inflasi bulanan.
Adapun komoditas yang tercatat dominan memberikan andil penurunan harga meliputi daging ayam ras, susu bubuk, jengkol, susu bubuk untuk balita, serta baju tidur wanita.
Dalam kegiatan pemaparan data tersebut, BPS Kota Bengkulu juga melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bengkulu. Di antaranya Dinas Komunikasi dan Informatika, Bappeda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Selain itu, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Bengkulu dan para statistisi BPS Kota Bengkulu turut mengikuti kegiatan tersebut.
Keterlibatan berbagai instansi ini menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi statistik yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah daerah.
Data inflasi memiliki peran strategis sebagai salah satu indikator untuk membaca kondisi perekonomian daerah. Informasi tersebut dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kelompok pengeluaran maupun komoditas yang memberikan tekanan paling besar terhadap harga barang dan jasa.
Dengan mengetahui komoditas penyumbang inflasi dan deflasi, pemerintah daerah memiliki gambaran yang lebih jelas dalam menentukan langkah pengendalian harga, terutama terhadap kebutuhan pokok masyarakat.
Perhatian terhadap perkembangan harga pangan juga menjadi penting agar gejolak harga tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga. Koordinasi lintas perangkat daerah diperlukan untuk mendukung pemantauan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga di pasaran.
Melalui penyampaian Berita Resmi Statistik Oktober 2026 ini, perkembangan inflasi di Kota Bengkulu diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra