Skip to main content

Ketegangan Warnai Penertiban Pondok Liar di Kawasan Wisata Pantai Panjang Bengkulu

Ketegangan Warnai Penertiban Pondok Liar di Kawasan Wisata Pantai Panjang Bengkulu

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>   Suasana sempat memanas saat petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan kegiatan penataan dan pembersihan di kawasan wisata Pantai Panjang pada Rabu (28/5). Penertiban yang dilakukan dengan tujuan memperindah kawasan wisata tersebut mendapat perlawanan dari salah satu pedagang.

Seorang perempuan paruh baya, yang diketahui merupakan salah satu pedagang yang membuka usaha di sepanjang kawasan Pantai Panjang, terlihat histeris ketika petugas mulai membongkar pondok miliknya. Ia berteriak menolak tindakan tersebut dan mencoba menghadang petugas agar tidak melanjutkan pembongkaran.

Tidak lama kemudian, seorang pria berbaju kaos merah, yang diduga adalah anak dari pedagang tersebut, datang dan bertindak agresif. Ia mengancam serta membentak petugas Satpol PP dan juga mengintimidasi anggota Tim Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bengkulu yang sedang mengambil dokumentasi lapangan.

“Woi, kau jangan rekam-rekam mak aku! Matikan kameranya! Kalau tidak, kau tanggung sendiri akibatnya,” teriak pria itu dengan nada tinggi sambil berjalan mendekati tim media.

Tak hanya sampai di situ, pria tersebut juga mendekati salah satu petugas Satpol PP dan melontarkan kata-kata kasar kepada Kepala Satpol PP, Yulizar. Ia menuding bahwa tindakan aparat membongkar pondok milik ibunya berpotensi membuat sang ibu kehilangan mata pencaharian.

“Mana Yulizar? Suruh dia ke sini! Kalau sampai terjadi sesuatu sama mak aku, misalnya dia nggak bisa cari makan lagi gara-gara kalian, awas ya!” ujarnya dengan nada mengancam.

Meski mendapat perlawanan dan tekanan verbal, petugas Satpol PP tetap tenang dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Mereka tidak terpancing oleh provokasi yang terjadi dan tetap fokus melanjutkan kegiatan pembongkaran.

Setelah beberapa saat, pria tersebut akhirnya pergi sambil membawa ibunya yang terus menangis meninggalkan lokasi. Namun sebelum benar-benar menjauh, dari kejauhan terdengar teriakan kembali dari pria itu, “Kalau kayak gini, kita perang sekalian!”

Namun demikian, petugas tetap melanjutkan aktivitas penertiban tanpa menghiraukan ancaman tersebut. Puluhan bangunan semi permanen milik pedagang yang berdiri tanpa izin di sepanjang kawasan pantai dibongkar secara sistematis. Potongan kayu dari bangunan yang telah dirobohkan langsung diangkut menggunakan truk milik pemerintah kota.

Asisten II Pemerintah Kota Bengkulu, Sehmi, M.Pd., yang hadir dan memimpin langsung kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa tindakan ini telah melalui proses panjang. Pihak Pemkot Bengkulu sebelumnya sudah beberapa kali memberikan imbauan kepada para pedagang agar membongkar sendiri bangunan mereka.

“Upaya persuasif sudah kita lakukan sejak lama. Kami sudah tiga kali menyampaikan pemberitahuan agar para pedagang secara sukarela membongkar pondok mereka. Tapi karena tidak ada respon, maka hari ini kita laksanakan penertiban,” kata Sehmi di sela kegiatan.

Ia juga menambahkan bahwa penataan kawasan wisata Pantai Panjang merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Bengkulu untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai ruang publik yang bersih, tertib, dan nyaman bagi semua pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan.

“Pantai Panjang ini adalah ikon wisata Bengkulu. Kalau tidak kita tata, nanti akan semrawut dan malah mengurangi daya tarik wisata. Kita ingin tempat ini menjadi kebanggaan masyarakat Bengkulu,” tegasnya.

Proses penertiban yang dilakukan sejak pagi hingga siang hari itu berjalan dengan lancar meskipun diwarnai insiden kecil. Pihak Satpol PP memastikan bahwa kegiatan tersebut akan terus dilakukan hingga seluruh bangunan liar di sepanjang kawasan Pantai Panjang dibersihkan secara menyeluruh.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra