Skip to main content

Lima Anak Putus Sekolah Kembali Belajar, Pemkot Bengkulu Buka Jalan Menuju Masa Depan

Lima anak dari keluarga rentan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Sentra Dharma Guna, Kota Bengkulu. Program ini menjadi upaya membuka kembali akses pendidikan bagi anak yang sempat putus sekolah.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>  Kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan akhirnya datang bagi lima anak dari keluarga rentan di Kota Bengkulu. Setelah sempat meninggalkan bangku sekolah karena tekanan ekonomi dan persoalan keluarga, mereka kini kembali memasuki dunia pendidikan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

Momentum tersebut berlangsung saat kelima anak mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Tahun Ajaran 2026/2027 di Sentra Dharma Guna, Minggu (20/9/2026).

Salah satu peserta adalah Erwin. Di tengah usia yang masih muda, Erwin selama ini harus membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mencari penghasilan dengan menjajakan kerupuk dari satu warung ke warung lainnya.

Tidak hanya itu, Erwin juga mengamen dengan memainkan gitar. Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk membantu ibunya yang berstatus janda.

Kondisi ekonomi membuat pendidikan Erwin sempat terhenti. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru banyak tersita untuk mencari penghasilan.

Namun, keadaan tersebut kini mulai berubah. Dengan mengikuti program SKB, Erwin mendapatkan kesempatan untuk kembali duduk di ruang belajar dan melanjutkan pendidikan yang sebelumnya tertunda.

Erwin tidak sendirian. Empat anak lainnya juga mendapatkan kesempatan serupa.

Ada Ahmad Nur Affandi, yang berasal dari keluarga pemulung. Kemudian Gebby, seorang anak yatim piatu yang sempat kehilangan arah dalam perjalanan pendidikannya.

Dua peserta lainnya, Farel Riski dan Sabila, mengalami putus sekolah setelah pendidikan mereka terhenti di tingkat SMP akibat persoalan ekonomi.

Kelima anak tersebut kini dipertemukan dalam program pendidikan yang memberikan ruang bagi anak-anak dengan kondisi sosial dan ekonomi rentan untuk kembali belajar.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bengkulu dalam menangani persoalan anak putus sekolah. Pemkot tidak ingin kondisi ekonomi keluarga menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan.

Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan UPT Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial. Kolaborasi ini dilakukan untuk menjangkau anak-anak yang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan pendampingan agar dapat kembali mengikuti proses pendidikan.

Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Afriyenita, mengatakan persoalan putus sekolah tidak dapat dilihat hanya melalui data statistik. Menurutnya, setiap anak memiliki latar belakang persoalan yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai.

Ia menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak yang telah meninggalkan sekolah tetap memperoleh kesempatan untuk belajar.

“Jangan sampai kemiskinan hari ini membuat anak-anak kita kehilangan masa depan. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan,” ujar Afriyenita saat mendampingi kegiatan MPLS.

Menurut dia, pendataan anak putus sekolah harus diikuti dengan langkah nyata. Anak-anak yang ditemukan tidak lagi bersekolah perlu didampingi dan diarahkan agar dapat kembali memperoleh pendidikan.

“Jangan biarkan kondisi ekonomi hari ini menentukan masa depan mereka selamanya,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Afriyenita turut didampingi Sekretaris Dinas Sosial Iryana serta tim pendamping sosial dari Kementerian Sosial, Yeyen Visiesha dan Puja Kusuma.

Program SKB tidak hanya memberikan kesempatan kepada kelima anak tersebut untuk kembali mengikuti pendidikan. Mereka juga mendapatkan ruang untuk membangun kembali rasa percaya diri setelah cukup lama berada di luar lingkungan sekolah.

Bagi anak yang sempat bekerja di jalanan, membantu keluarga, atau menghadapi kehilangan orang tua, kembali ke ruang kelas tentu membutuhkan proses adaptasi.

Karena itu, lingkungan belajar diharapkan dapat menjadi tempat yang aman sekaligus memberikan motivasi bagi mereka untuk kembali menyusun rencana masa depan.

Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Bengkulu di bawah kepemimpinan Wali Kota Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

Kisah Erwin dan empat anak lainnya menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak semestinya menjadi penutup perjalanan pendidikan seorang anak.

Setelah sebelumnya menghabiskan waktu mencari penghasilan, kini mereka kembali berhadapan dengan buku, pena, ruang kelas, serta kesempatan untuk membangun cita-cita.

Kembalinya lima anak tersebut ke bangku pendidikan menjadi pengingat bahwa penanganan anak putus sekolah membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, keluarga, lembaga sosial, dan masyarakat memiliki peran untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi.

Bagi Erwin, hari pertama mengikuti MPLS bukan sekadar agenda sekolah. Itu menjadi awal dari perjalanan baru setelah pendidikan sempat terhenti.

Kini, lembaran lama perlahan ditutup. Buku baru dibuka, dan harapan kembali tumbuh.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra