TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, Rejang Lebong, Bengkulu, menjadi pusat peringatan Global Tiger Day 2024 di Provinsi Bengkulu. Pada peringatan ini, testimoni mantan pemburu hewan dilindungi menjadi pemicu penting untuk menjaga dan melestarikan hutan.
Mawi, mantan pemburu harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) asal Sumatera Selatan, menyatakan komitmennya untuk berhenti total dari perburuan dan berjanji menjadi penjaga populasi harimau di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Keputusan bertobat ini didukung oleh Yayasan Lingkar Inisiatif, lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada konservasi dan perlindungan harimau Sumatera serta pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Mawi, yang berasal dari Desa Muara Tiku, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, telah menjadi pemburu selama 47 tahun. "Saya pertama kali berburu harimau saat berusia 14 tahun, sekitar tahun 1974. Pada waktu itu, faktor ekonomi dan ketidakmampuan untuk bertani serta tidak memiliki ladang menjadi alasan utama. Selain itu, ada permintaan dari masyarakat setempat yang sering menjadi mangsa harimau," kata Mawi.
Tidak menggunakan senjata api, Mawi berburu dengan pisau, sling baja, korek api, jas hujan, dan cairan spiritus. Ia tinggal di hutan selama beberapa pekan dan tidak pulang sebelum mendapatkan harimau. "Perburuan terakhir saya pada tahun 2017, ketika mendapatkan seekor harimau dewasa dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan berat sekitar 500 kilogram. Harimau tersebut terjual seharga 27 juta rupiah, meliputi kulit, taring, dan tulangnya," jelasnya.
Mawi mengajak para pemburu lainnya untuk menjaga kelestarian harimau Sumatera dari ancaman kepunahan. "Saya melakukannya dengan pendekatan humanis dan mengajak pemburu yang telah bertobat untuk aktif dalam pelestarian populasi harimau," tutupnya.
Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, dalam talkshow di Taman Hutan Wisata MADAPI, Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, menjelaskan bahwa saat ini populasi harimau Sumatera di kawasan hutan TNKS sekitar 150 ekor, menempatkannya dalam ancaman kepunahan. "Kita sedang berpacu dengan kepunahan, karena jumlah populasi harimau Sumatera di TNKS hanya 150 ekor. Ini berarti kita menghadapi risiko kehilangan keseimbangan ekosistem," jelasnya.
Menurut Rohidin, ancaman utama bagi harimau Sumatera adalah deforestasi, perburuan, dan konflik. Jika deforestasi dan perburuan terus berlanjut, dalam 100 tahun ke depan, populasi harimau di bentang alam kecil bisa mengalami kepunahan sebesar 100 persen. Di bentang alam sedang, ancaman kepunahan mencapai 83 persen, sedangkan di bentang alam besar ancaman kepunahan rata-rata sebesar 31 persen.
Namun, jika ancaman ini dihilangkan, peluang kepunahan di bentang alam sedang dan besar dapat berkurang. "Selain menghentikan ancaman, upaya untuk meningkatkan keberlangsungan hidup harimau adalah melalui mekanisme dispersal alami, yaitu dengan koridor antar-bentang alam yang mendukung perpindahan populasi secara alami melalui translokasi, dengan populasi besar sebagai sumbernya. Perlindungan terhadap populasi kecil juga sangat penting untuk menjaga keragaman genetiknya," tutup Rohidin.
Pewarta: Herdianson
Editing: Adi Saputra