Skip to main content

Sarasehan Perekonomian Bengkulu Bahas Stabilitas Ekonomi Daerah

Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Bank Indonesia membahas stabilitas ekonomi daerah dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 dengan fokus sinergi kebijakan moneter dan fiskal.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar Sarasehan Perekonomian Bengkulu Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Februari 2026 serta Kajian Fiskal Regional (KFR) Triwulan II Tahun 2026, Kamis (9/4).
Forum ini mengangkat tema Sinergi Moneter dan Fiskal dalam Menjaga Stabilitas Aktivitas Produksi dan Distribusi di Tengah Tekanan Geopolitik Global.

Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, R.A. Deni, yang menyampaikan berbagai perkembangan serta tantangan ekonomi daerah.

Ia menjelaskan bahwa kondisi perekonomian global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dan fluktuasi pasar internasional. Namun demikian, perekonomian Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2025 tetap menunjukkan kinerja yang cukup baik dan stabil.

Berdasarkan data resmi yang disampaikan dalam forum tersebut, ekonomi Bengkulu pada tahun 2025 tumbuh 4,80 persen, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 4,62 persen.

Menurut R.A. Deni, capaian ini menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi daerah dalam memasuki tahun 2026.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa perekonomian Bengkulu mampu bergerak secara stabil dan berkualitas meskipun di tengah tantangan global yang cukup kompleks,” ujarnya.

Angka pertumbuhan tersebut juga dinilai cukup kompetitif karena mendekati rata-rata pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera yang mencapai 4,81 persen, meskipun masih sedikit berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.

Dari sisi struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada tahun 2025 didorong oleh hampir seluruh sektor usaha. Namun sektor tradisional masih menjadi penopang utama perekonomian daerah.

Sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Bengkulu. Komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, dan berbagai hasil pertanian lainnya terus memberikan kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Meski demikian, terdapat beberapa sektor yang mengalami tekanan, salah satunya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mendorong diversifikasi ekonomi ke depan.

Sepanjang tahun 2025, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama pemerintah kabupaten dan kota telah melaksanakan berbagai program strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Beberapa program tersebut antara lain:

Penguatan ketahanan pangan berbasis komoditas unggulan daerah

Pengembangan komoditas kopi dan perkebunan rakyat

Program cetak sawah untuk meningkatkan produksi pangan

Pengembangan sentra UMKM dan produk khas daerah

Optimalisasi distribusi logistik antarwilayah


Selain itu, sektor jasa dan pariwisata juga terus didorong sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Aktivitas ekonomi di sektor akomodasi, kuliner, dan ekonomi kreatif mulai menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Stabilitas ekonomi Bengkulu juga tercermin dari tingkat inflasi yang masih terjaga. Sepanjang tahun 2025, inflasi daerah tercatat berada di angka 2,7 persen, masih berada dalam rentang target inflasi nasional.

Pemerintah Provinsi Bengkulu memberikan apresiasi terhadap peran Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terus berupaya menjaga stabilitas harga melalui berbagai program pengendalian inflasi.

Program seperti Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera dinilai efektif dalam menjaga kestabilan harga bahan pokok sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Di sisi perdagangan luar negeri, nilai ekspor Bengkulu sepanjang tahun 2025 masih menghadapi tekanan. Total nilai ekspor dari Januari hingga Desember 2025 tercatat sekitar 104,6 juta dolar AS, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Negara tujuan utama ekspor Bengkulu masih didominasi oleh India, Tiongkok, dan Kamboja. Meski demikian, Bengkulu masih mampu mencatat neraca perdagangan yang surplus, yang menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri tetap memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi daerah.

Pemerintah daerah menilai perlu adanya upaya diversifikasi komoditas ekspor serta peningkatan nilai tambah produk unggulan agar daya saing ekonomi Bengkulu semakin kuat.

Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Bengkulu juga terus mempersiapkan pembangunan kawasan industri sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Saat ini pemerintah bersama pemerintah daerah terkait tengah melakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk mendukung pengembangan kawasan industri tersebut.

“Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Ke depan, pengembangan potensi ekonomi daerah harus terus diperkuat melalui peningkatan nilai tambah komoditas unggulan serta pembangunan kawasan industri,” ujar R.A. Deni.

Melalui forum sarasehan ini, pemerintah berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Di tengah dinamika global yang berpotensi mengganggu rantai pasok produksi dan distribusi, penguatan sektor utama seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi langkah strategis agar perekonomian Bengkulu tetap tumbuh secara berkelanjutan.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan, Bengkulu diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra