Skip to main content

Wali Kota Bengkulu Tegur Keras Camat dan Lurah, Minta Mundur Jika Tak Mau Bekerja

Wali Kota Bengkulu Tegur Keras Camat dan Lurah, Minta Mundur Jika Tak Mau Bekerja

TEROPONGPUBLIK.CO.ID   <<<>>>  Suasana tegang mewarnai pertemuan antara Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, dengan seluruh camat dan lurah se-Kota Bengkulu dalam sebuah agenda resmi di Ruang Hidayah I, Senin (tanggal disesuaikan). Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Dedy menyampaikan kritik keras terhadap menurunnya kinerja para lurah dan camat, serta sikap acuh mereka terhadap komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan daerah.

Dengan nada tegas, Dedy meminta para lurah yang tidak serius menjalankan tugas, terutama dalam pengelolaan dana kelurahan, untuk segera mengundurkan diri dari jabatan. Ia menekankan pentingnya profesionalisme dan tanggung jawab sebagai aparatur pemerintah yang bertugas melayani masyarakat.

“Saya sudah beberapa kali menghubungi lurah dan camat melalui WhatsApp, baik secara pribadi maupun di grup, tapi tidak ada respons. Kalau saya sebagai wali kota saja diabaikan, bagaimana nasib masyarakat yang perlu pelayanan?” kata Dedy dalam pernyataannya.

Dedy mengaku kecewa karena banyak dari lurah dan camat yang seolah tidak menghargai komunikasi, bahkan ketika menyangkut hal-hal penting terkait tugas pemerintahan. Ia menilai hal tersebut sebagai bentuk ketidakpedulian dan tidak layak ditoleransi.

“Jangan bersikap seolah tidak waras. Kita ini sedang menjalankan amanah rakyat. Kalau tidak bisa bekerja sama, lebih baik mundur. Tidak perlu menunggu ditegur lagi,” ujar Dedy dengan nada serius.

Ia menambahkan bahwa pemerintah kota telah berupaya memberikan berbagai bentuk motivasi, termasuk hadiah umroh dan peluang promosi jabatan bagi ASN yang berprestasi. Namun, menurutnya, semangat kerja justru menunjukkan tren menurun.

“Kita sudah berikan berbagai insentif bagi pegawai teladan. Tapi sekarang, semangat kerja malah kendor. Jangan sampai penghargaan yang kita berikan jadi sia-sia,” ujarnya.

Yang menjadi perhatian utama Wali Kota adalah minimnya keseriusan dalam mengelola dana kelurahan, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di tingkat bawah.

“Dana kelurahan itu wajib dijalankan. Kalau takut atau merasa tidak sanggup karena alasan risiko, lebih baik mengundurkan diri. Kita hanya mau bekerja dengan orang-orang yang siap dan berani ambil tanggung jawab,” tegas Dedy.

Melalui pertemuan ini, Dedy berharap seluruh jajaran pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan dapat meningkatkan disiplin, komunikasi, serta etos kerja dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan publik.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra