TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Festival Tabut kembali hadir memeriahkan awal tahun baru Islam di Kota Bengkulu. Perayaan budaya religius ini dijadwalkan berlangsung mulai 27 Juni hingga 6 Juli 2025 dan akan dipusatkan di kawasan Lapangan Sport Centre, Jalan Pariwisata, Pantai Panjang, Kota Bengkulu.
Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, dengan penuh semangat mengajak seluruh lapisan masyarakat, tak hanya dari Provinsi Bengkulu tetapi juga dari seluruh Sumatera dan seantero Indonesia, untuk datang dan menyaksikan Festival Tabut tahun ini.
“Dari kota merah putih, kami mengajak adik sanak segalo, se-provinsi, se-Sumatera, dan se-Indonesia, agar datang bersama-sama ke Kota Bengkulu untuk menyaksikan perayaan Tabut,” ujar Dedy dalam keterangannya, Selasa (24/6).
Ia juga menegaskan bahwa Pantai Panjang, lokasi pusat acara, adalah salah satu pantai terindah di dunia yang layak menjadi destinasi wisata nasional. “Kami tunggu kehadirannya di Pantai Panjang, pantai yang menyimpan pesona luar biasa. Mela adik sanak, samo samo ke Sport Centre. Jangan lupa, kami tunggu di Kota Bengkulu,” tambahnya.
Festival Tabut merupakan perayaan adat dan keagamaan yang memiliki akar sejarah dan spiritual kuat bagi masyarakat Bengkulu. Diselenggarakan setiap tanggal 1 hingga 10 Muharram, acara ini tidak hanya menjadi penanda Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap kisah kepahlawanan Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam peristiwa tragis di Padang Karbala, Irak.
Walikota Dedy menyampaikan bahwa Tabut bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan juga sarana memperkuat nilai-nilai moral dan budaya di tengah masyarakat. “Tabut ini adalah perayaan budaya yang kaya akan pesan moral dan sarat makna historis. Di dalamnya terdapat semangat perjuangan, pengorbanan, serta nilai-nilai spiritual yang penting untuk diwariskan kepada generasi muda,” jelasnya.
Sejarah mencatat, Tradisi Tabut mulai berkembang di Bengkulu sejak abad ke-18, ketika para keturunan Suku Kaur asal India (bermazhab Syiah) datang dan menetap di wilayah ini. Seiring waktu, tradisi ini berasimilasi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Bengkulu.
Acara Festival Tabut biasanya mencakup serangkaian kegiatan budaya dan keagamaan, seperti ritual pengambilan tanah (ambik tanah), duduk penja, menjara, arak kereta kuda, hingga puncaknya yakni prosesi tabut dibuang ke laut sebagai simbol pelepasan duka.
Selain ritual tradisi, festival ini juga diramaikan dengan pameran budaya, pentas seni, kuliner khas Bengkulu, bazar UMKM, lomba-lomba seni, hingga penampilan musik dan tari dari berbagai daerah. Dengan konsep perpaduan religi dan budaya, Festival Tabut telah menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya.
Pemerintah Kota Bengkulu bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk Dinas Pariwisata dan Dewan Kesenian Bengkulu untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan meriah dan aman. Diharapkan festival ini juga mampu mendongkrak sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
“Momen ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga memperkenalkan kearifan lokal Bengkulu ke dunia luar. Dengan datang ke Festival Tabut, kita bukan hanya menyaksikan budaya, tetapi juga membantu roda ekonomi masyarakat bergerak,” terang Dedy.
Sebagai warisan budaya tak benda yang telah diakui secara nasional, Festival Tabut kini menjadi magnet utama dalam kalender wisata Provinsi Bengkulu. Dedy pun optimistis dengan promosi yang masif dan dukungan semua elemen masyarakat, Festival Tabut 2025 akan berlangsung lebih semarak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kami siap menyambut tamu dari mana pun. Ini saatnya kita angkat kembali budaya kita ke pentas nasional bahkan internasional. Ayo ke Bengkulu, saksikan langsung Tabut – budaya yang tak hanya indah, tapi penuh makna,” pungkas Walikota.
Dengan segala kemeriahannya, Festival Tabut 2025 bukan sekadar perayaan, melainkan cerminan kebersamaan, kearifan lokal, serta kekuatan tradisi yang tetap hidup di tengah arus zaman.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra