TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Mentari pagi yang belum sepenuhnya meninggi menghadirkan suasana berbeda di halaman Pendopo Merah Putih, Pekan Sabtu. Biasanya, lokasi tersebut identik dengan aktivitas pemerintahan dan kendaraan dinas yang hilir mudik. Namun kali ini, pemandangan berubah drastis dengan hadirnya deretan bus yang membawa ratusan jemaah calon haji menuju embarkasi.
Sebanyak 358 jemaah yang tergabung dalam kloter 4 bersiap memulai perjalanan spiritual menuju Tanah Suci. Di antara mereka, tampak sosok Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi. Kehadirannya kali ini bukan dalam kapasitas sebagai kepala daerah yang memberikan pidato resmi, melainkan sebagai seorang Muslim yang hendak menunaikan rukun Islam kelima.
Mengenakan batik besurek yang sederhana, Dedy berjalan berdampingan dengan sang istri, Ny. Dian Fitriani. Keduanya tampak khusyuk dan penuh harap, siap menjalani perjalanan panjang yang sarat makna spiritual. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa di hadapan panggilan Ilahi, semua manusia berada pada posisi yang setara.
Suasana pelepasan dipenuhi rasa haru. Sejumlah pejabat daerah, mulai dari Penjabat Sekda Medy Pebriansyah, para asisten, staf ahli, hingga kepala organisasi perangkat daerah, turut hadir memberikan doa dan dukungan. Namun yang menarik, Dedy justru mengambil peran sebaliknya. Ia menyampaikan doa bagi seluruh jemaah yang akan berangkat bersamanya.
Dengan suara bergetar, ia mendoakan agar seluruh jemaah diberikan kesehatan, kelancaran dalam beribadah, serta dapat kembali ke tanah air dalam keadaan selamat. Ucapan tersebut disambut dengan lantunan “Aamiin” yang menggema dari para jemaah, menciptakan suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Dalam pesannya, Dedy juga menekankan pentingnya sikap disiplin selama menjalankan ibadah haji. Ia mengajak seluruh jemaah, termasuk dirinya sendiri, untuk mematuhi arahan ketua regu dan ketua kloter demi kelancaran seluruh rangkaian ibadah.
Ia bahkan menegaskan komitmennya untuk tetap bersama rombongan sejak keberangkatan hingga kepulangan nanti. Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi kepemimpinan yang membumi, sekaligus memperkuat rasa solidaritas di antara para jemaah.
Setibanya di Asrama Haji, suasana berubah menjadi lebih tertib dan terstruktur. Seluruh jemaah mengikuti rangkaian prosedur yang telah ditetapkan, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga proses administrasi. Dedy dan istri mengikuti seluruh tahapan tersebut tanpa perlakuan khusus, menunjukkan sikap kesederhanaan dan kepatuhan terhadap aturan.
Salah satu momen menarik terjadi saat proses aktivasi Kartu Nusuk, yaitu identitas digital resmi bagi jemaah haji. Dedy Wahyudi dan Ny. Dian Fitriani menjadi jemaah pertama yang menyelesaikan aktivasi tersebut. Mereka juga menerima gelang identitas yang telah dilengkapi dengan nama masing-masing.
Keberhasilan aktivasi ini menandakan kesiapan teknis sekaligus kesiapan mental untuk menjalani ibadah haji. Selain itu, hal ini juga mencerminkan adaptasi terhadap sistem digital yang kini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan haji modern.
Bagi Dedy, perjalanan ini memiliki makna lebih dari sekadar kewajiban religius. Ibadah haji menjadi kesempatan untuk sejenak menjauh dari rutinitas pemerintahan dan dinamika politik, sekaligus memperkuat spiritualitas diri. Ia berharap dapat kembali dengan membawa energi positif untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat.
Sebelum keberangkatan, ia juga menyampaikan pesan kepada keluarga yang ditinggalkan agar tetap tenang dan percaya bahwa doa-doa akan terus mengalir dari Tanah Suci. Keyakinan tersebut menjadi penguat bagi keluarga dan masyarakat yang ikut mengiringi kepergian rombongan jemaah.
Kini, bus-bus yang mengangkut para jemaah telah bergerak meninggalkan Pendopo Merah Putih. Di dalamnya, terdapat harapan, doa, dan tekad yang kuat untuk menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan. Seorang walikota pun melepas atribut jabatannya, menyatu sebagai tamu Allah, membawa harapan bagi dirinya dan masyarakat Kota Bengkulu.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra