TEROPONGPUBLIK.CO.ID– Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu, Edi Harianto, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi Pelabuhan Pulau Baai yang belum mampu mendukung aktivitas keluar masuk kapal secara optimal. Hal ini berdampak langsung terhadap layanan transportasi laut, khususnya untuk masyarakat Pulau Enggano.
Dalam pernyataannya, Edi mengungkapkan bahwa hingga kini belum ada kapal yang dapat secara langsung bersandar di pelabuhan tersebut. Terakhir, KM Pulau Telo—kapal yang biasa digunakan untuk melayani rute ke Pulau Enggano—harus berlabuh di luar pelabuhan (anker), karena belum dapat masuk ke alur pelabuhan yang masih belum memadai.
“Warga yang ingin menuju atau kembali dari Pulau Enggano harus naik kapal kecil terlebih dahulu dari Pulau Telo, kemudian berpindah ke kapal besar. Ini sangat berisiko, apalagi saat gelombang tinggi. Kami khawatir suatu saat bisa terjadi insiden seperti penumpang terjatuh ke laut,” ujar Edi.
Lebih lanjut, ia menyoroti masih belum adanya tindak lanjut konkret dari pihak Pelindo untuk memperbaiki kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa solusi sementara dengan mendatangkan ekskavator belum cukup efektif. Ekskavator hanya mampu membersihkan sebagian alur pelabuhan dan belum mencapai kedalaman ideal yang dibutuhkan kapal besar.
“Ekskavator kemarin itu sifatnya darurat, hanya untuk membuka akses awal. Tapi untuk mencapai kedalaman enam meter, alat itu jelas tidak memadai. Apalagi yang digunakan bukan ekskavator jenis long arm. Daya jangkaunya terbatas,” tambahnya.
Sementara itu, KM Merah yang sempat disiagakan hanya berfungsi menyedot sedimen di titik-titik tertentu yang tidak bisa dijangkau ekskavator. Namun langkah ini dinilai belum cukup untuk mengatasi permasalahan utama.
Edi mendesak agar pihak Pelindo segera mengambil langkah tegas dan cepat dengan mendatangkan kapal keruk (dredger). Kapal keruk dinilai sebagai solusi permanen yang mampu mengeruk sedimen secara menyeluruh dan memperdalam alur pelayaran pelabuhan secara signifikan.
“Kami berharap dalam waktu dekat Pelindo bisa mendatangkan kapal keruk yang sesuai standar. Jangan hanya alat berat biasa yang hasilnya tidak maksimal,” tegas Edi.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Pelabuhan Pulau Baai merupakan gerbang penting bagi distribusi logistik dan transportasi antar pulau, khususnya ke wilayah terpencil seperti Pulau Enggano.
DPRD Kota Bengkulu melalui Komisi II berkomitmen untuk terus mengawal persoalan ini. Mereka mendesak Pelindo agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan mempercepat proses normalisasi pelabuhan agar pelayanan transportasi laut bisa kembali berjalan lancar dan aman.
Pewarta: AMG
Editing: Adi Saputra